Penemuan Lubang Kenikmatan

Kisah ini terjadi sekian tahun yang lalu ketika

aku masih berumur 15 tahun. Aku bersekolah di sebuah SMP favorit di

kotaku dan ketika itu masih duduk di kelas 3 SMP. Aku adalah anak

terakhir dari 3 bersaudara dengan kakakku yang tertua telah menjadi

dokter umum dan kakakku yang satu lagi masih kuliah di salah satu

perguruan tinggi negri. Karena melihat keberhasilan kedua kakakku, maka

ayah dan ibuku pun menuntut hal yang sama dariku. Setiap kali aku

mendapatkan nilai yang jelek, pasti habislah aku terkena amarah dari

kedua orangtuaku. Bahkan ayah sering memukuliku dengan sabuknya.

Ketika itu aku mendapatkan nilai yang jelek di mata pelajaran

sejarah, karena aku memang tidak terlalu pandai di bidang itu.

Karenanya, makian dan cambukan ayah pun harus kuterima dengan lapang

dada. Pamanku yang bernama Winata, masih berumur 26 tahun sudah sering

membelaku ketika ayah marah karena aku mendapatkan nilai buruk. Tapi

tampaknya pembelaannya sia-sia saja karena semakin dia membelaku,

bukannya kasihan, ayah justru semakin geram dan Oom win selalu saja

terkena makiannya pula.

Sambil menangis, aku pun mengadu ke Oom Win tentang perlakuan ayah di kamarnya yang persis berada di sebelah kamarku.

“Papa jahat, Oom”

“Sudah Anna, kamu tenang saja”

“Anna pengen mati aja Oom, badan Anna sakit semua dipukulin Papa terus”

“Hush jangan bilang gitu Anna, ayah tetap sayang kok sama kamu”

Kemudian aku menyingkapkan dasterku dengan tujuan menunjukkan

pahaku yang sudah berwarna kebiru-kebiruan terkena pukulan ayah.

Kemudian Oom Win beranjak mengambil body lotion dan membaringkan aku

yang masih terisak-terisak di kasurnya.

“Sudah diam, jangan menangis terus, sini Oom pijitin”

Oom win dengan kelembutannya mengoleskan body lotion itu di pahaku

dan memijit-memijit pahaku yang telah terbentang tanpa penutup di depan

matanya.

“Auch Oom pelan-pelan, sakit Oom”

“Iya, Oom pelan-pelan kok Anna.”

Karena memang aku sudah akrab dengan Oom Win sejak aku kecil, kami

tumbuh bersama lebih sebagai kakak adik daripada hubungan

paman-kemenakan. Kemudian Oom memegang bahuku untuk menenangkanku, tapi

karena punggungku dan bahuku juga terkena pukulan ayah, maka aku pun

mengerang kesakitan.

“Auch Oom sakit sekali punggung Anna”

“Coba kamu lepas saja daster nya Anna, biar Oom pijitin juga punggung kamu”

Aku pun mengambil posisi tengkurap ketika Oom Win memijat-memijat

punggungku. Sesekali, tangannya yang lembut menyentuh bagian paling

sensitif dari tubuhku, terutama karena memang aku adalah remaja puber

yang baru saja mendapatkan perubahan-perubahan di tubuhku. Tangannya

sesekali menyentil bagian samping payudaraku, dan setiap kali itu pula

badanku menyentak-menyentak.

“Kenapa kamu Anna, sakit ya?”

“Nggak kok Oom, cuman Anna kaget”

“Ooh, itu normal kok, tandanya kamu sudah dewasa”

Pipiku memerah menahan malu, karena ternyata Oom Win mengetahui apa

maksudku. Kemudian dengan cepat Oom Win membalikkan badanku dan dia

dapat melihat payudaraku yang mulai tumbuh besar dengan pentilnya yang

mencuat dibawah miniset yang kupakai karena aku mulai terangsang,

terutama karena pandangannya yang menyapu bagian-bagian tertentu dari

tubuhku itu.

“Wah Anna, kok susu kamu sudah sebesar itu kamu masih pakai miniset?”

“Iya Oom, habis Anna tidak tahu harus bagaimana”

“Besok pulang sekolah ikut Oom yah ke mall kita beli BH buat kamu”

“Oom serius?”

“Iya, tapi kamu tahu nggak ukurannya?”

“Wah kalau itu sih Anna nggak tahu Oom, gimana dong?”

“Coba sini Oom lihat”

Dengan cepat pula Oom Win menarik miniset yang kupakai, dan refleks

tanganku menutupi susuku yang tidak ditutupi dengan apapun juga.

Pelan-Pelan tangan Oom Win menarik tanganku yang menutupi susuku itu.

“Gila, Anna, susu sebesar itu kamu masih pakai miniset. Kalau kamu

di sekolah, pasti temen-temen kamu sering melihat pentil kamu dong”

“Iya Oom, temen-temen Anna yang cowok kadang-kadang ada yang jahil pura-pura tak sengaja menyenggol Anna punya”

“Tuh kan, barang segitu gede mustinya dibungkus yang bener, Anna”

Kemudian, dengan tangannya Oom Win mulai memegang-memegang susuku,

mengusap-mengusapnya dengan body lotion tapi tidak menyentuh pentilnya.

“Wah ini pasti ukurannya 34B”

“Kok Oom tahu?”

“Oom cuman kira-kira, Anna, besok kita tanya aja sama Mbaknya yang jaga toko, OK?”

Sebelum aku menjawab pertanyaan Oom Win, tiba-tiba mulutnya sudah

“ngempeng” di pentilku, karena kaget tubuhku tersentak dan bukannya

mengelak, aku pun malahan membusungkan dadaku ke arah Oom Win.

Tiba-Tiba Oom Win melepaskan mulutnya dari pentilku, dan seketika itu

pula tubuhku semakin maju mengikuti arah kepalanya.

“Enak nggak Anna?”

Dengan malu-malu aku mengangguk dan dengan liar Oom Win mulai

memegang-memegang susuku lagi, menggoyang-menggoyangkannya sambil

memilin-memilin putingku yang sudah keras sekali. Kemudian, Oom Win

keluar dari kamar dan ketika dia kembali, akan terjadi peristiwa yang

lebih asik lagi.

Oom Win kembali ke kamarnya ketika aku masih mengelus-mengelus putingku sendiri.

“Lho, Anna, kamu lagi ngapain?”

“Um, um, lagi cobain sendiri Oom, ternyata geli-geli gimana gitu enak kok”

Oom Win ternyata mengambil 2 butir telur dari lemari es. Kemudian,

dia mengikat kedua tanganku ke belakang (di belakang pinggang), dan

setelah itu mencium bibirku. Ketika tubuhku tersentak karena aku

merasakan pentilku telah beradu dengan benda dingin yang aneh, tanpa

kusadari ternyata Oom Win mengelus-mengelus kan telur-telur itu tadi ke

kedua pentilku. Karena aliran dingin itu pula, aku meronta-meronta

kegelian dan tidak berdaya karena kedua tanganku masih terikat. Aku

hanya bisa memaju mundurkan dadaku saja dan justru itu menambah

keasyikan sendiri ketika kedua putingku kembali menyentuh telur yang

dingin itu.

“Oom, Anna pengen pipis.”

“Pipis aja disini, Anna, nggak Papa kok”

Karena memang aku belum pernah berhubungan sex sebelumnya, cairan

yang keluar kental dan tak henti-hentinya itu ternyata lendir birahiku

yang kuketahui setelah Oom Win sendiri menjelaskannya kepadaku.

Setelah “pipis” itu, aku merasakan badanku lemas terkulai. Dengan

tangan yang masih terikat, Oom Win mulai melucuti celana dalamku.

“Oom, jangan dibuka Oom, Anna barusan aja pipis”

“Anna, biar Oom bersihkan pipisnya”

Kemudian Oom Win melepas celana dalamku yang sudah basah oleh

lendir perawanku. Dengan liar, Oom Win menjilati memekku yang sudah

basah itu.

“Geli ah Oom, kok Oom nggak jijik jilatin pipis Anna?”

“Hmph, hmph, memek kamu kenyal Anna”

Justru mendengar kata-kata jorok dari Oom Win itulah berahiku

timbul lagi dan ketika memekku sudah merasakan nyot-nyotan yang hebat,

aku pun berteriak.

“Sudah Oom, Anna mau pipis lagi”

Karena Oom Win benar-benar melepaskan lidahnya dari memekku,

pinggulku dengan selangkangannya yang telah terbuka lebar dan berlendir

itu pun terangkat. Kemudian setelah beberapa saat, Oom Win berbalik

menjilatiku lagi. Dan tak lama kemudian, aku pun mengerang hebat.

“Arghh Oom, Anna pipis lagi Oom”

Cairan kental yang deras (lebih hebat dari yang pertama kurasakan)

mengalir kembali di memekku. Oom Win mulai melucuti pakaiannya dan aku

kaget melihat ujangnya berdiri tegak menantang.

“Lho kok bisa berdiri gitu sih Oom?”

“Memang itu keistimewaan laki-laki, Anna, ade Oom ini bisa juga lemes dan lucu tapi bisa juga jadi gede dan tegak”

Pelan-Pelan Oom Win mengarahkan ujangnya ke memekku.

“Oom, mau dimasukkan kemana Oom, memek Anna tidak berlubang”

Dengan sabar Oom Win berkata, “Setiap memek perempuan berlubang,

Anna dan lubang itu baru berguna setelah ada laki-laki yang mau masuk

ke lubang itu”

“Tapi Anna tidak pernah melihat lubangnya, Oom”

“Nanti kamu juga merasakannya, tidak usah ingin melihatnya, Anna”

Daging yang kenyal itu (kepala ujang Oom Win) mulai

menggesek-menggesek bagian yang menonjol dari memekku, oleh karenanya

cairan yang keluar tadi mulai lagi mengalir di memekku dan aku merasa

lagi kegelian.

Karena masih perawan, maka lubang memekku mungkin memang sulit

ditemukan oleh Oom Win. Sambil masih terus menggosok-menggosokkan

kepala ujangnya, Oom Win memijit-memijit bibir memekku dan

merekahkannya pelan-pelan. Dengan tangan yang masih terikat, aku

meronta-meronta.

“Oom, sakit Oom”

“Kamu mau kita cari lubang itu nggak?”

“Mau Oom”

Oom Win mulai mengarahkan ujangnya ke lubang memekku. Pelan-Pelan

dia menggesek-menggesek kan kepala ujang itu dan aku mulai merasakan

adanya “lubang” di memekku. Pelan-Pelan sambil digosok-digosokkan maju

mundur, akhirnya clep, ujang Oom Win masuk menembus selaput daraku.

“Arhh Oom, sakit sekali,” darah segar pun mengalir di selangkanganku.

Dengan ujangnya yang masih menancap, Oom Win hanya tersenyum

melihat reaksiku. Dia masih diam dan sambil pelan-pelan

mengelus-mengelus bahuku dan susuku. Setelah aku agak tenang, Oom Win

memutar-memutar pinggulnya sehingga aku merasa geli yang hebat di

seluruh bagian rahimku dimana tertancap ujang Oom Win. Daging yang

kenyal itu melesak-melesak menyenggol-menyenggol semua bagian

seakan-seakan mengocok-mengocok isi perutku. Pelan-Pelan Oom Win mulai

menggenjot ujangnya dengan memaju mundurkan ujang nya dari lubang di

memekku.

“Memek kamu sempit sekali Anna, dede Oom serasa dipijitin”

“Argh Oom, ah, geli ah..”

Oom Win tidak hanya menggenjotku, tapi meremas-meremas putingku

dengan liar, melumatnya dengan lidahnya mengecup-mengecupnya dan karena

tanganku yang masih terikat di belakang punggung, aku pun hanya pasrah

atas apa yang akan dilakukan Oom Win.

“Oomm Anna pipis lagi Oom”

Dan ketika cairan kental itu keluar lagi dari memekku, Oom Win

masih menancapkan ujangnya di memekku sambil menunggu sampai gerak

badanku agak melemah.

Setelah itu, tubuhku diangkatnya dan kakiku dilingkarkan ke

pinggangnya, dan dia memainkan aku seperti bonekanya, naik turun dan

oleh karena gerakan itu juga, setiap kali tubuhku bergoyang-bergoyang,

pentilku bergesekan dengan dadanya yang berbulu tipis dan bidang itu.

Kegelian yang kurasakan makin hebat karena ujang Oom Win semakin

melesak masuk ke dalam lubangku itu.

Direbahkannya lagi tubuhku dan diganjalnya pinggangku dan pantatku

dengan tumpukan bantal sehingga memekku semakin terkuak lebar dan itu

memudahkan Oom Win untuk menancapkan ujangnya di lubangku. Pada posisi

itu pula akhirnya ujang Oom Win terasa berdenyut-berdenyut dan akhirnya

menyemprotkan cairan yang banyak bersamaan dengan orgasmku yang

terakhir.

Setelah itu, aku pun terbaring lemas dan pelan-pelan Oom Win

melepaskan ikatan tanganku kemudian memandikan aku dan mengeringkanku

dengan penuh kelembutan.

“Sekarang Anna sudah menjadi perempuan ya, Oom?”

“Iya, lubangnya ada kan Anna?”

“Eh iya Oom”

“Tapi, sebagai perempuan kamu tidak boleh sembrono memasukkan semua

ujang-ujang ke dalam lubang memekmu itu, apalagi kalau sampai

ujang-ujang itu menyemprotkan cairan seperti ujang Oom tadi”

“Kenapa Oom?”

“Karena cairan yang menyemprot itu berisi benih laki-laki, Anna. Kamu bisa saja hamil”

Karena wajahku pusat pasi mengetahui kenyataan itu, Oom Win

menenangkan aku dan memberiku pil anti hamil untuk mencegah aku hamil.

Malam itu, aku tertidur pulas setelah “pipis” untuk kesekian

kalinya dari hasil memilin-memilin puttingku sendiri. Setelah kejadian

itu, setiap kali ayah memarahiku, lubangku tidak pernah menganggur

untuk diisi ujang oleh Oom Win.

Menu Special

Sebut saja namaku Hendra, 19 tahun. Aku seorang
mahasiswa di salah satu PTN di kotaku, kota A saat ini aku baru tahun
pertama kuliah. Aku akan menceritakan pengalaman seksku, memang bukan
yang pertama tapi masih asyik untuk diceritakan. Aku teringat
pengalamanku dengan adik sepupu ibuku.

Kejadian ini terjadi kira-kira 1 bulan yang lalu. Ketika itu saat
liburan semester 1, aku pergi ke kota P dimana di kota itu aku
dilahirkan. Memang kepergianku itu sudah lama kurencanakan dandidorong
oleh sepupu ibuku yang di kota P, (aku memanggilnya dengan sebutan
mama, sedangkan ibuku sendiri kupanggil ibu). Karena aku selalu dimanja
dan menganggapnya benar-benar seperti ibuku sendiri. Baiklah aku akan
menceritakan sedikit tentang keluarga mamaku ini. Ia berumur lebih
kurang 43 tahun, wajahnya lumayan cantik, badannya tinggi kira-kira 167
cm, ukuran dadanya lumayan besar 36 C, terlihat sangat menantang juka
berdiri tegap. Rambutnya ikal sebahu lebih sedikit, pinggangnya ramping
dan pantatnya aduhai cukup menggairahkan diusianya yang sudah melebihi
40 tahun ini. Dan mengenai suaminya, bekerja di sebuah perusahaan yang
cukup terkenal, dan hanya akan pulang 3 hari dalam 2 minggu,
anak-anaknya yang pertama cewek umur 21 tahun sekarang sedang studi di
luar propinsi kota P, dan yang kedua cowok sebaya denganku tapimasih
sekolah di salah satu Sekolah Kejuruan di kota P.

Aku sampai di kota P, hari senin pukul 03:00 siang, karena aku
memang sengaja berangkat dengan perkiraanku sampai di kota P sore hari
karena aku akan bisa istirahat di malam harinya. Tapi sialnya aku saat
itu malah tidak bisa istirahat karena aku selalu diganggu sepupuku yang
masih sekolah itu. Dengan ajakan kemana-mana. Tapi memang dasar suka
bermain, akhirnya aku pergi juga malam harinya. Aku memang sangat rindu
akan keadaan kota P, karena memang sudah 3 tahun lebih aku tidak pernah
ke kota P, ditambah lagi dengan saudaraku ini yang karena sebaya dan
setipe denganku, sebut saja nama saudaraku itu Jermy. Malam itu, karena
aku belum istirahat dan di tambah lagi dengan pergi jalan-jalan aku
langsung tergeletak tidur sampai pagi harinya, aku terbangun kira-kira
pukul 09:00 pagi. Kulihat Jermy sudah tidak ada pasti sudah pergi
sekolah, pikirku.

Aku langsung mandi. Sehabis mandi aku berencana mau sarapan di
lantai bawah, karena memang rumah sepupuku ini memang cukup besar dan
berlantai 2. Aku sampai di bawah dan melihat mama lagi di dapur tidak
tahu lagi ngapain. Sepertinya sedang bersih-bersih, aku melihat meja
makan bundar yang terbuat dari marmer kosong tidak ada apa-apa di situ,
tiba-tiba mama datang.

“Udah bangun Hend,” tanya mama.

“Udah Ma, udah mandi lagi khan udah wangi,” sambil mengangkat tanganku.

“Belum sarapan yach.” tanya mama lagi.

“Iyach belum Ma, sediain dong Ma Hendra khan lapar.” balasku dengan manja.

“Udah kamu duduk aja di menja makan, ntar Mama sediain yang special buat Hendra,” ujarnya sambil melangkah ke dalam kamarnya.

Tak lama kemudian mama keluar, aku yang lagi bengong duduk di meja makan.

“Tunggu yach.” katanya singkat.

“Yup..” balasku.

“Sekarang kamu tutup mata biar Mama sediain buat kamu, sarapan special,” kata mama.

Tanpa banyak bertanya aku langsung saja menutup mata dan menunggu, gerangan apakah sarapan special buatku.

“Udah Mama.” tanyaku penasaran.

“Tunggu sebentar.” balas mamaku.

Aku merasa suaranya dekat sekali kalau tidak salah di meja makan,
dan tiba-tiba ia memegang kepala dari arah depan. Aku sepertinya
mencium sesuatu yang wangi yang pernah kukenal, belum habis aku
melamun, mama berkata sambil mendekatkan kepalaku ke sumber bau yang
cukup wangi itu.

“Udah kamu sekarang buka mata, dan cicipi sarapan specialmu.”

“Ahh..” aku terbelalak kaget saat melihat mama sudah tidak memakai
apa-apa lagi. Ia duduk mengangkang di atas meja dari batu itu dan
tangan kanannya memegang kepalaku. Jantungku berdegub kencang melihat
selangkangan mama yang berwarna merah kekuningan, bulu halus yang
tertata rapi di sekitar tepian lubang vaginanya, buah dadanya
bergelayut indah. Penisku langsung terbangun dari tidurnya dan berdiri
keras menyesakkan celana trainingku (aku memang suka memakai celana
training di rumah).

“Ayo Sayang, cicipi sarapanmu.” katanya sambil mengedipkan sebelah
matanya. Tanpa pikir panjang, aku yang telah pernah melakukan oral seks
langsung menusukkan lidahku ke dalam vaginanya dan menyedotnya dengan
penuh nafsu. Aku menghisap vaginanya dan mengeluar-masukkan lidahku di
dalam vaginanya. “Aaah.. ehmm.. enak.. Sayang terusin.” desahnya.
Klitorisnya kuhisap-hisap, ia semakin menggelinjang dan pantatnya
terangkat sedikit, nafasku semakin memburu. Kakinya merangkul kepalaku
dan menjepitnya dengan keras, aku nyaris kehabisan nafas. Tangan
kananku mencari lubang pantatnya dan memasukkan jari tengahku ke
dalamnya dan mengeluar-masukkan di lubang itu. “Ah.. ah.. ah.. oohh..
nikmat sekali Sayang..” ia semakin menggelinjang.

Kira-kira 12 menit lidahku bergerilya di vaginanya, aku turun ke
bawah dan mengangkat kakinya. Aku melihat lubang anusnya berwarna
kecoklatan dan langsung lidahku bermain di sana dan ia seperti buang
air menahan nafas dan lubang pantatnya terbuka sedikit demi sedikit dan
memudahkan permainan lidahku di dalam anusnya.

Setelah beberapa saat aku berdiri kemudian membuka pakaianku, ia
hanya memandang sampaI aku membuka celana trainingku dan ia melotot tak
bekedip melihat penis pusakaku telah berdiri tegap dan menantang.

“Wow.. besar sekali.” gumannya lembut, tapi masih dapat kudengar.
Pusakaku ini memang kuakui besar untuk remaja seusiaku, panjangnya
kira-kira 20 cm dengan diameter 6 cm. Ia langsung tengkurap di atas
meja makan dan memegang penisku dan langsung mengeluarkan
lidahnya.”Ah.. ehmm..” desahku, mulutnya mulai berusaha memasukkan
penisku ke dalam mulutnya tapi sepertinya kemaluanku terlalu besar
untuk bisa muat di dalam mulutnya tapi karena ia tetap berusaha, aku
menyentakan pinggulku ke depan, “Ehghhkk..” ia tersedak tapi kemaluanku
berhasil masuk, walaupun sedikit sakit karena terkena giginya.
Sepertinya mulutnya cuma pas buat ujungnya saja dan tanpaknya ia
kepayahan dengan mulutnya tetap berisi kemaluanku. Aku mulai
memaju-mundurkan pantatku seolah-olah aku sedang menyetubuhi vaginanya,
tapi tiba-tiba ia mencengkeram pahaku dengan kuat. Pandangannya seperti
memohon untuk mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya dan akhirnya aku
mengeluarkan dari mulutnya, aku hanya tersenyum melihat ia megap-megap.
Setelah kemaluanku keluar dari mulutnya, “Hend.. kamu kasar..” katanya
kembali memegang dan mengelus penisku dan aku menggelinjang ketika ia
mulai kembali menghisap kepala kemualuanku, “Ah.. enak.. Ma.. Ma..”
tanganku memegang rambutnya yang ikal dan tanpa sadar aku
mengacak-ngacak rambutnya.

Lalu aku naik ke atas meja makan itu dan melakukan posisi 69 dan
aku menyedot kembali vaginanya, belum lama aku menjilati vaginanya yang
berbau wangi itu tubuhnya mulai mengejang dan mulutnya berhenti
menjilati penisku dan kemudian ia memekik lirih. “Ohh.. ahh.. enakk..
Sayang..” Kemudian dari vaginanya keluar cairan putih. “Ser.. slur..
slur..” Cairan itu banyak sekali dan aku langsung menjilatinya dn
menelan sampai habis dan membersihkan tepiannya. Ia mulai lemas dan aku
rasanya mulai tak sabar untuk memasukkan penisku ke dalam lubang
kemaluannya yang sudah mengkilap karena ludah dan maninya.

Aku turun dan menarik kakinya sehingga kedua kakinya terjuntai ke
bawah dan aku mengarahkan kemaluanku ke vaginanya. “Yach.. masukkan
sekarang Sayang..” nafas mama semakin memburu berartiia kembali
bernafsu dan, “Bles.. shh..” penisku yang besar masuk ke dalam
vaginanya tanpakesulitan lagi. “Ah.. beh.. shettss..” pekik mamaku
merasakan kemaluanku amblas di dalam lembah kenikmatannya. Aku mulai
mengocoknya. “Bleb.. bleb..” begitu bunyi ketika aku mulai mengocok
kemaluanku dengan penuh semangat. Mama hanya menggigit bibirnya menahan
nikmat. Tanganku meremas kedua payudaranya yang menantang itu,
putingnya yang besar berwarna coklat tua kuhisap dan meremasnya dengan
kuat. “Akh.. ahh.. nikmhhmmat Sayanngg..” sambil memilin keduaputingnya
secara bergantian, goyangan pinggulku kupercepat dan bergerak sangat
beraturan. Aku naik ke atas dan mencium bibirnya dan memainkan lidahku
di dalam rongga mulutnya dan lidah kami saling memilin dengan bibir
saling menghisap. Kemaluanku terasa disedot-sedot oleh diding vaginanya
dan terasa dipijit.

“Ma.. ahh.. enak sekali Ma..” aku semakin bersemangat.

“Heendraa.. lebih kencang..” rintihnya memberi semangat kepadaku,
aku merasakan kemaluanku disedot dan badannya mulai mengejang kaku, aku
tahu pasti ia sudah hampir pada puncaknya, aku mempercepat gerakanku
dengan nafas ngos-ngosan dan tiba-tiba ia memekik sambil mencekeram
bahuku dengan kuat.

“Ah.. Mama keluuaarr Sayang..” nafasnya turun naik, penisku terasa
dijepit kuat sekali dan terasa semburan cairan kental panas yang banyak
di sekitar kemaluanku dan sedotannya membuatku merasakan sesuatu pada
diriku. Badanku terasa melayang dan “Ah.. ah.. owwhh.. Maammaaku keluar
Ma..” teriakku di rumah yang besar ini. Ia malah mendekapku dengan
kuat. Kemaluanku mengeluarkan sperma dengan banyak sekali mungkin
sampai 7 kali sembur di dalam vaginanya, hingga spermaku memenuhi rahim
mamaku, terasa penuh oleh campuran cairan mamaku dan spermaku sendiri.

Sepuluh menit kemudian aku mencabut kemaluanku dan mengelapnya
begitu juga badanku yang mengkilat karena keringat. Mama pun bangkit
dan kemudian aku berkata, “Wah.. enak sekali sarapan pagi special Ma..”
candaku.

“Mau nambah..” kedip mata mamaku.

“Tentu dong, sapa takut..” ujarku meremas lembut dua bukit kembarnya.

Waktu itu pukul 11:30 siang. Kemudian aku bermain lagi dengan
mamaku sepuasnya sampai Jermy pulang dan kemudian aku, mama dan Jermy
makan siang bersama. Dalam makan siang aku selalu memandang mama seolah
aku tidak percaya kalau aku telah melakukan permainan seks dengannya.

Siang itu, Jermy harus pergi praktek di tempat yang ditunjuk sekolah karena itu ia harus pergiselama seminggu.

“Ma.. Jermy akan pergi praktek lapangan kira-kira seminggu.” izin Jermy pada mamanya.

“Yach nggak pa-pa Sayang, khan itu keharusan.. itu khan untuk nilai lapor juga.”

“Hend.. jangan balik dulu ke A yach.. tunggu aku balik dari
praktek, baru kamu balik ke A. Kasihan khan mama sendiri, Papa khan
baru balik 10 hari lagi.” kata Jermy setengah memohon, karena ia memang
sayang pada mama dan takut terjadi apa-apa pada mamanya jika ditinggal
sendiri.

“Yach tentu, Jermy.” ujarku tersenyum pada mama dengan penuh arti.

Pukul 03:00 siang Jermy pergi dengan sepeda motornya dan akan kembali minggu depan.

“Ma, apa menu makan malam kita Ma..” tanyaku sambil mencolek pantatnya yang bahenol.

Sejak saat itu hampir setiap waktu hingga Jermy pulang aku
melakukannya dengan mama, baik di tempat tidur, kamar mandi, dapur,
garasi dan kadang sampai di gudang. Dan paling enak bagiku mungkin di
atas meja makan.

Pelajaran Bercinta

Aku Sony, berumur 23 tahun. Ini cerita mengenai
pengalamanku. Pertama-tama aku mau cerita soal diriku. Aku saat ini
kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang. Di Malang aku
tinggal dengan tanteku. Tanteku orangnya masih muda, umurnya hanya
selisih 3 tahun denganku. Itulah mengenai diriku, dan selanjutnya
silakan ikuti pengalamanku ini.

Saat itu aku baru saja pulang kuliah, langsung saja kumasuk ke
kamar. Ketika baru sampai di depan pintu kamar, samar-samar kudengar
tante sedang bicara dengan temannya di telpon. Aku orangnya memang suka
jahil, kucoba menguping dari balik pintu yang memang sedikit terbuka.
Kudengar tante mau mengadakan pesta seks di rumah ini pada hari Sabtu.
Aku gembira sekali mendengarnya. Untuk memastikan berita itu, langsung
saja aku masuk ke kamar tante. Setelah selesai telpon, tante kaget
melihatku sudah masuk ke kamarnya.

“Lho Son, Kamu udah pulang rupanya. Kamu ada perlu ama Tante, ya..?” katanya.

Aku langsung saja to the point, “Tante, Sony mau nanya.., boleh khan..?” kataku.

“Boleh aja keponakanku sayang, Kamu mau nanya apa..?” sambungnya sambil menyubit pipiku.

“Tapi sebelumnya Sony minta maaf Tante, soalnya Sony tadi nggak sengaja nguping pembicaraan Tante di telpon.”

“Aduhh.. Kamu nakal ya Son, awas nanti Aku bilangin ama Mama Kamu
lho. Tapi.. Oke dech nggak apa-apa. Terus apa yang mau Kamu tanyakan,
ayo bilang..!” katanya agak jengkel.

“Sony tadi dengar Tante ama teman Tante mau ngadain pesta seks disini, benar itu Tante..?” kataku pelan.

“Idihh.. jorok ach Kamu. Masak Tante mau ngadain pesta seks disini, itu nggak benar Son.”

“Tapi tadi Sony dengar sendiri Tante bicara ama teman Tante, please
donk Tante, jangan bohongin Sony. Nanti Sony bilangin ama Om kalau
Tante mau ngadain pesta disini.” kataku agak mengancam.

“Apaa..! Aduhh.., Son, please jangan bilang ama Om Kamu. Iya dech Tante ngaku.” katanya agak memohon.

“Nah, khan ketahuan Tante bohongin Sony.” kataku senang.

“Terus Kamu mau apa kalau Tante ngadain pesta..?” katanya penasaran.

“Gini Tante, anuu.., anuu.., Sony.., pengen.. anuu..”

“Anu apa sih Son..? Ngomong donk terus terang..!” katanya tambah penasaran.

“Boleh nggak, Sony ikutan pestanya Tante..?”

Aduh tante melotot lagi sambil berkata, “Udah, ah, Kamu ini kayak orang kurang kerjaan aja.”

Terus kurayu lagi, “Yaa.. Tante.. ya.. please..!”

“Tapi ini khan untuk orang dewasa lagi, Kamu ngaco dech. Lagian khan Kamu masih kecil.” katanya agak kesal.

“Tapi Tante, Sony khan udah gede, masak nggak boleh ikut. Kalau nggak percaya, Tante boleh lihat punya Sony..!”

Lalu kulepaskan celana dan CD-ku. Lalu terlihatlah batang
kemaluanku yang lumayan besar, kira-kira panjangnya 17 cm dengan
diameter 10 cm.

Tante kaget sekali melihat ulahku lalu, “Wowww.., Sony sayang..,
punya Kamu besar dan panjang sekali. Punya Kamu lebih besar dari Om
Kamu. Hhhmm.., boleh nggak Tante pegang kepala yang besar itu
Sayang..?” katanya dengan genit.

“Tante boleh ngobok-ngobok kontolku, tapi Tante harus ngijinin Sony ikut pesta nanti..!” kataku agak mengancam.

“Ya dech, Sony nanti boleh ikut. Tapi Tante mau nanya ama kamu, Sony udah pernah ngeseks belom..?” tanyanya.

Lalu kukatakan saja kalau aku belum pernah melakukan seks dengan
cewek, tapi kalau raba sana, raba sini, cium sana, cium sini sih aku
pernah melakukannya.

“Mau nggak Tante ajarin..?” katanya dengan genit.

Aku hanya terdiam. Lalu tiba-tiba tante meletakkan tangannya di pahaku. Aku begitu terkejut.

“Kenapa Kamu terkejut..? Tante hanya memegang paha Kamu aja kok..!”

Kemudian tante mengambil tanganku, lalu dia mulai menciumi tanganku. Aku merasakan barangku mulai bangun.

Tanteku mulai menciumi leherku, kemudian bibirku dilumat juga. Dia
masukkan lidahnya ke dalam mulutku, tanpa kusadari aku mengulum
lidahnya. Nafasnya mulai tidak beraturan kudengar. Sementara kami asyik
berciuman, tangannya mulai meraba-raba batang kemaluanku. Dia
meremas-remas pelan. Aku pun jadi mulai berani. Kumasuki tanganku ke
dalam bajunya untuk meraba payudaranya. Kumasukkan tanganku ke dalam
bra-nya, terus kuremas-remas.

“Aaahh..” dia mulai mendesah.

Tidak lama aku disuruh duduk di tepi ranjang, sementara tante melepaskan bajunya step-by-step.
Mataku tidak berkedip sedetik pun. Aku tidak mau melepaskan pemandangan
yang indah itu dari mataku. Kelihatan bra-nya yang berwarna hitam
transparan, sehingga payudaranya yang putih dengan putingnya yang merah
kecoklatan samar terlihat. CD-nya ternyata berwarna hitam transparan
berenda. Kulihat belahan vaginanya yang tidak ada bulunya itu. Lalu dia
melepaskan bra-nya, payudaranya yang lumayan besar itu seperti loncat
keluar dan mulai berayun-ayun, membuatku tambah tegang saja. Kemudian
dia melepaskan CD-nya. Kelihatan vaginanya begitu menarik, agak
kecoklatan warnanya. Lalu tante jalan menghampiriku yang duduk di tepi
ranjang.

“Tante buka baju Kamu yaa.., Son..?” katanya genit.

Aku hanya mengangguk. Setelah aku telanjang total, tante langsung
jongkok di depanku dan menyuruhku membuka kaki lebar-lebar. Batang
kejantananku yang sudah tegang itu tepat di depan wajahnya. Lalu dia
mulai menjilati kakiku mulai dari jempol kakiku dan yang lainnya. Dia
naik ke betisku yang berbulu lebat, persis hutan di Kalimantan.
Kemudian dia naik lagi ke pahaku, dielusnya dan dijilatinya, setelah
itu dia berpindah ke lubang anusku yang juga dicium dan dijilatinya.
Tidak hanya itu, ternyata dia memasukkan jari tengahnya ke lubang
anusku. Ohh.., nikmatnya. Lalu dia mulai mengelus-elus batang
kejantananku dan tangan satunya memijat-mijat my twins egg-ku.

“Aaahh..!” aku mengerang kenikmatan.

Kemudian dia memasukkan batang kejantananku ke mulutnya, dia hisap
penisku, terus diemut-emutnya senjata kejantananku. Dia gerakkan
kepalanya naik-turun dengan batang kejantananku masih di dalam
mulutnya. Terasa penis saya menyentuh tenggorokannya dan masih terus
dia tekan. Masih dia tekan terus sampai bibirnya menyentuh badanku.
Semua batang penisku ditelan oleh tanteku, lidahnya menjilat bagian
bawah penisku dan bibirnya dibesar-kecilkan, sebuah rasa yang tidak
pernah kubayangkan. Penisku kemudian dikeluar-masukkan, tapi tetap
masuk seluruhnya ke tenggorokannya.

Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan, terasa batang penisku sudah mau mengeluarkan cairan.

Sambil memeras biji kemaluanku dan tangan yang satu lagi
dimasukkannya ke dalam lubang pantatku, kubilang sama tante, “Tante..,
Aku mau keluar, ohh..!”

Dia keluarkan penisku dan bilang, “Go on come in My mouth. I want to taste and drink your cum, Sony. Hhhmm..”

Penisku dimasukkan lagi, dan sekarang dia memasukkan dengan lebih
dalam dan dihisap lebih keras lagi. Setelah beberapa kali keluar masuk,
kukeluarkan spermaku di dalam mulut tante, dan langsung ke dalam
tenggorokannya. Terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubang
pantatku lebih ditekan ke dalam lagi sampai semuanya masuk. Aku
benar-benar merasakan nikmat yang sulit dikatakan.

Perlahan-lahan dia mengeluarkan batang penisku sambil berkata,
“Punya Kamu enak Son.., Tante suka,” katanya, “Sekarang giliran Kamu
yaahh..!” pintanya.

Kemudian dia berbaring di tempat tidur dan kakinya dikangkanginya
lebar-lebar. Tante menyuruhku menjilat vaginanya yang kelihatan sudah
basah. Baru pertama kali itu kulihat vagina secara langsung. Dengan
agak ragu-ragu, kupegang bibir vaginanya.

“Jangan malu-malu..!” katanya.

Kugosok-gosok tanganku di bibir kemaluannya itu. Mmmhh.., dia mulai mengerang. Lama-lama klitorisnya mulai mengeras dan menebal.

“Kamu jilat dong..!” pintanya.

Kemudian aku menunduk dan mulai menjilati liang senggamanya yang sudah merah itu.

“Mmmhh.., enak juga..” kupikir.

Aku semakin bersemangat menjilati vagina tanteku sendiri. Sedang
asyik-asyiknya aku menjilati liang senggama, tiba-tiba badan tanteku
mengejang.

Desahannya semakin keras, “Aaahh.., aahh..!”

Lalu muncratlah air maninya dari lubang senggamanya banyak sekali.
Langsung saja kutelan habis cairan itu. Mmmhh.., enak juga rasanya.

Kemudian dia bilang, “Ohh.., God.. bener-bener hebat Kamu Son.. lemes Tante.. nggak kuat lagi dech untuk berdiri.., ohh..!”

Lalu dengan perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi ranjang, kubuka
pahanya lebar-lebar dan kujatuhkan kakinya ke lantai. Vaginanya
sekarang sudah terbuka agak lebar. Nampaknya dia masih terbayang-bayang
atas peristiwa tadi dan belum sadar atas apa yang kulakukan sekarang
padanya. Begitu tante sadar, batang kejantananku sudah menempel di
bibir kemaluannya.

“Tante, Sony udah nggak tahan nich..!” kataku memohon.

Dia mengangguk lemas, lalu, “Ohh..!” dia hanya bisa menjerit tertahan.

Lalu selanjutnya aku tak tahu bagaimana cara memasukkan penisku ke
dalam liang senggamanya. Lubangnya agak kecil dan rapat. Tiba-tiba
kurasakan tangan tante memegang batang kejantananku dan membimbing
senjataku ke liang kenikmatannya.

“Tekan disini Son..! Pelan-pelan yaa.., punya Kamu gede buanget sih..!” katanya sambil tersenyum.

Lalu dengan perlahan dia membantuku memasukkan penisku ke dalam
lubang kemaluannya. Belum sampai setengah bagian yang masuk, dia sudah
menjerit kesakitan.

“Aaa.., sakit.. oohh.., pelan-pelan Son, aduhh..!” tangan kirinya
masih menggenggam batang kemaluanku, menahan laju masuknya agar tidak
terlalu keras.

Sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku. Aku merasakan
batang kejantananku diurut-urut di dalam liang kenikmatannya. Aku
berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangan tante membuat
penisku susah untuk memasukkan lebih dalam lagi.

Aku menarik tangannya dari penisku, lalu kupegang erat-erat
pinggulnya. Kemudian kudorong batang kejantananku masuk sedikit lagi.

“Aduhh.., sakitt.., ohh.. sshh.. aacchh..” kembali tante mengerang dan meronta.

Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tak sabar lagi
kupegang erat-erat pinggulnya supaya dia berhenti meronta, lalu
kudorong sekuatnya batang kemaluanku ke dalam lagi. Kembali tante
menjerit dan meronta dengan buasnya.

Aku berhenti sejenak, menunggu dia tenang dulu lalu, “Lho kok
berhenti, ayo goyang lagi donk Son..,” dia sudah bisa tersenyum
sekarang.

Lalu aku menggoyang batang kejantananku keluar masuk di dalam
liang kenikmatannya. Tante terus membimbingku dengan menggerakkan
pinggulnya seirama dengan goyanganku.

Lama juga kami bertahan di posisi seperti itu. Kulihat dia hanya
mendesis, sambil memejamkan mata. Tiba-tiba kurasakan bibir kemaluannya
menjepit batang kejantananku dengan sangat kuat, tubuh tante mulai
menggelinjang, nafasnya mulai tak karuan dan tangannya meremas-remas
payudaranya sendiri.

“Ohh.., ohh.., Tante udah mo keluar nich.., sshh.. aahh..”
goyangan pinggulnya sekarang sudah tidak beraturan, “Kamu masih lama
nggak, Son..? Kita keluarin bareng-bareng aja yuk.. aahh..!”

Tidak menjawab, aku semakin mempercepat goyanganku.

“Aaahh.., Tante keluar Son..! Ohh ennaakk..!” dia mengelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.

Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku juga akan keluar tidak lama lagi.

Dan akhirnya, “Ahh.., sshh.. ohh..!” kusemprotkan cairanku ke dalam liang kewanitaannya.

Lalu kucabut batang kejantananku dan terduduk di lantai.

“Kamu hebat..! Sudah lama Tante nggak pernah klimaks.., oohh..!” katanya girang.

“Ohh.., Sony cape.., Tante!” kataku sambil tersenyum kelelahan.

Kami tidak lama kemudian tertidur dalam posisi kaki tante melingkar
di pinggangku sambil memeluk dan berciuman. Aku sudah tidak ingat jam
berapa kami tertidur. Yang kutahu, ada yang membersihkan penisku dengan
lap basah tapi hangat. Ternyata tante yang membersihkan batang
kejantananku dan dia sudah terlihat bersih lagi. Setelah selesai
membersihkan penisku, dia langsung menjilatinya lagi. Dengan tetap
semangat, batang kejantananku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Yang ini terasa lebih dalam dan lebih enak, mungkin posisi mulut lebih
cocok dibandingkan waktu aku berdiri.

Dengan cepat batang keperkasaanku menjadi keras lagi dan dia bilang, “Son, sekarang Kamu kerjain Tante dari belakang ya..!”

Dia kemudian membelakangiku, pantat serta vaginanya terlihat
merekah dan basah, tapi bekas-bekas spermaku sudah tidak ada. Sebelum
kumasukkan batang kejantananku, kujilat dulu bibir vaginanya dan lubang
pantatnya. Tercium bau sabun di kedua lubangnya dan sangat bersih.
Cairan dari liang senggamanya mulai membasahi bibir kemaluannya,
ditambah dengan ludahku. Di ujung kemaluanku terlihat cairan menetes
dari lubang kepala kejantananku. Kuarahkan batang kemaluanku ke lubang
vaginanya dan menekan ke dalam dengan pelan-pelan sambil merasakan
gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari batang
kejantananku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi
ini.

Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding di atas tempat
tidur sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke
atas. Dari bawah, kemaluannya terlihat sangat merah dan basah.

“Ayo masukin lagi sekarang, Son..!” pintanya tak sabar.

Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan batang kejantananku
ke liang senggamanya. Dengan posisi ini, kumasuk-keluarkan batang
kejantananku. Setiap kali aku mendorong batang penisku ke liang
senggamanya, badan tante membentur dinding.

Sambil memelukku dan sambil berciuman, dia bilang, “Son, Tante mo keluar nich..!”

Kemudian kurasakan lubang senggamanya diperkecil dan memijat batang
keperkasaanku dan bersamaan kami keluar dan orgasme. Aku masih bisa
juga keluar, walaupun tadi sudah keluar dua kali. Dan yang kali ini
sama enaknya.

Kami terus rebahan di kasur sambil berpelukan. Kepala tante di
dadaku dan tangannya memainkan penisku yang masih basah oleh sperma dan
cairan vaginanya. Dengan nakal tante menaruh jari-jarinya ke wajahku
dan mengusap ke seluruh wajahku. Bau sperma dan vaginanya menempel di
wajahku. Dia tertawa waktu aku pura-pura mau muntah. Untuk membalasnya,
kuraba-raba vaginanya yang masih banyak sisa spermaku dan seluruh
telapak tanganku basah oleh sperma dan cairan dia. Pelan-pelan kutaruh
di wajahnya, dan wajahnya kuolesi dengan cairan itu. Dia tidak mengeluh
tapi justru jari-jariku dijilat satu persatu.

Setelah jari dan tanganku bersih, dia mulai menjilati wajahku, semua bekas sperma dan cairannya dibersihkan dengan lidahnya.

Selesai dengan kerjaannya, dia bilang, “Son, sekarang giliran Kamu yaahh..!”

Wow, tidak disangka aku harus menjilat spermaku sendiri. Karena
tidak punya pilihan, aku mulai menjilati cairan di wajahnya, dimulai
dari bibirnya sambil kukulum keras-keras. Nafas tante terasa naik lagi
dan tangannya mulai memainkan batang kejantananku. Tidak disangka kalau
aku bisa juga membersihkan wajahnya dan menjilat spermaku sendiri.

Tanganku diarahkan ke liang senggamanya dan digosok-gosokkan ke
klit-nya. Kami saling memegang kira-kira 30 menit. Terus kami berdua
mandi untuk membersihkan badan kami.

Saat Sandra Tidur

Sebuah insiden baru terjadi beberapa malam yang lalu. Insiden yang tidak disengaja yang membangunkan sesuatu yang tanpa kusadari telah ada di dalam diriku. Kamis malam kemarin temanku yang bernama Lilo mampir untuk mengobrol, minum dan nonton TV di rumahku. Lilo bekerja di kantor yang sama denganku. Hari Jumat keesokannya adalah hari libur untuk kantor kami jadi kami mendaptkan 3 hari libur di akhir minggu tersebut. Karena itulah kami tidak terburu-buru menghabiskan malam itu. Berbeda dengan istriku, Sandra; ia harus bekerja esok harinya. Dan karena termasuk orang yang tidak suka tidur larut malam, ia pergi tidur sekitar pukul 10:30. Sandra adalah salah satu orang yang paling lelap saat tertidur. Beberapa kali aku pernah mencoba mengguncang-guncangkan bahunya untuk membangunkannya, namun selalu gagal. Ia terus tertidur. Setelah Sandra pergi tidur, Lilo dan aku duduk di ruang tamu dan menonton DVD porno yang sengaja kami beli. Lagipula Sandra juga tidak pernah suka menonton film-film seperti itu. Setelah beberapa adegan, Lilo berkata, “Wah, pasti enak yah kalo punya cewe untuk diajak ngeseks! Udah lama banget nih, gue kagak begituan!” Aku sedikit kaget mendengar komentarnya. Lilo bukanlah pria yang buruk rupa. Dengan tinggi 175 cm dan berat sekitar 70 kg, aku malah menduga ia mempunyai banyak teman wanita. “Emangnya elu lagi ga jalan sama siapa-siapa, Lo?” tanyaku. “Kagak. Sejak Bunga putus sama gue 2 taon yang lalu, gue agak-agak malu untuk ajak cewe jalan,” jawabnya. Kami mengobrol tentang Bunga yang ternyata tidak serius dengan Lilo. Setelah beberapa botol bir dan beberapa adegan dari film porno yang kami tonton, Lilo bangkit berdiri untuk pergi kencing.

Aku tetap duduk sambil menonton film itu untuk beberapa saat dan akhirnya baru menyadari bahwa Lilo belum kembali setelah cukup lama pergi kencing. Aku berdiri dan menghampirinya untuk memeriksa apakah ia baik-baik saja. Saat aku berada pada jarak yang cukup dekat dengan WC, aku melihat pintu itu terbuka. Aku masuk ke WC dan mendapati Lilo berdiri di pintu yang menghubungkan WC dengan kamar tidurku. Ia terlompat melihat aku masuk.

“Wah, sorry banget nih,” katanya. “Waktu gue masuk, pintu ini memang udah terbuka. Dan waktu gue mau keluar, gue liat dia terbaring seperti itu.” Aku berjalan mendekati tempat Lilo berdiri dan melihat ke arah kamar tidurku. Sandra terbaring menyamping sehingga punggungnya menghadap ke arah kami dengan kaki yang sedikit tertekuk. Sandra tidur dengan mengenakan daster panjang namun bagian bawahnya tersingkap sampai ke pinggul sehingga menampakkan bulatan pantat yang halus, mulus dan terlihat tidak mengenakan celana dalam. Pundaknya sedikit tertarik ke belakang sehingga memperlihatkan kami sisi bukit dadanya dan tonjolan puting susunya dari balik daster yang sedikit tembus pandang. Ia terlihat sangat seksi terbaring seperti itu dengan remang-remang cahaya dari WC. Bibirnya sedikit terbuka dan rambutnya yang panjang terhampar di atas bantal. Boleh dibilang posisi Sandra saat itu seperti sedang berpose untuk pemotretan majalah dewasa.

“Gila! Cakep banget!” kata Lilo sambil menahan nafas. “Gue mau disuruh apa aja untuk mendapatkan cewe seperti dia, Kris.” Pada awalnya aku sedikit kesal mendengar perkataan Lilo. Namun pada saat yang bersamaan, melihat Lilo memandang istriku seperti itu tanpa sepengetahuan Sandra justru membuat diriku terangsang. “Aduh, sorry nih, Kris. Gue rasa udah waktunya buat gue untuk pulang,” kata Lilo berbalik badan untuk keluar. “Eh, tunggu, Lo,” kataku. “Ayo masuk ke sini sebentar aja. Tapi jalannya pelan-pelan, oke?” “Ha?! Elu mau gue masuk ke kamar elu?” “Kalo cuma lihat doang mah ga ada yang dirugikan, kan? Tapi kita engga boleh buat dia terbangun, oke?”

Bahkan aku sendiri tidak percaya apa yang baru saja aku katakan. Aku mengijinkan pria lain masuk ke kamar tidurku sehingga ia dapat melihat istriku yang dalam keadaan ‘setengah’ telanjang. Aku pun masih tidak yakin apa dan sejauh apa yang akan aku lakukan berikutnya.
Saat kami berjingkat memasuki kamarku, aku mendorong Lilo untuk mendekat ke samping ranjang. Bahkan Lilo sendiri terlihat tidak yakin. Pandangannya berpindah-pindah antara aku dan Sandra. Semakin mendekat ke ranjang, pandangannya lebih terarah ke Sandra. Sandra berbaring di pinggir ranjang di sisi tempat kami berdiri dan semakin kami mendekat, kedua bukit payudaranya semakin jelas terlihat.
Puting susunya dapat terlihat dari balik dasternya yang tipis. Walau bagian bawah dasternya sudah tersingkap namun kami masih belum dapat melihat bibir vaginanya karena tertutup oleh kakinya.

Aku hanya berdiri di sana dengan cengiran lebar memandangi Lilo dan istriku bergantian. Dengan mulut ternganga, Lilo juga hanya memandangi istriku dengan takjub dan kagum. “Gila, Kris. Seksi banget sih! Gue ga percaya elu kasih gue liat bini elu dalam kondisi begini!”
Dengan hati-hati aku meraih tali daster Sandra dan menariknya turun melewati pundaknya turun ke lengan sehingga bagian atas dasternya tersingkap dan memperlihatkan lebih banyak lagi bagian payudaranya. Gerakanku terhenti saat kain bagian atas daster itu tertahan oleh puting Sandra.”Mau lihat lebih banyak?” aku berbisik.

“I-iyah!” Lilo berbisik balik. Dengan sangat lembut aku mencoba untuk menurunkan tali daster itu lagi namun puting susunya tetap menahan kain itu sehingga tidak dapat terbuka lebih jauh. Aku menyelipkan jari-jariku ke bawah daster tersebut lalu dengan hati-hati mengangkatnya sedikit melewati puting Sandra. Lilo menahan nafasnya tanpa bersuara. Sekarang payudara kirinya sudah terbuka. Putingnya yang sangat halus dan berwarna merah muda itu berdiri tegang karena mendapat rangsangan dari gesekan kain dasternya tadi. Lalu aku meraih ke tali dasternya yang lain dan meloloskannya dari pundak kanan Sandra. Dengan lembut aku menarik kain daster itu melewati puting sebelah kanannya. Kini kami dapat melihat kedua payudara Sandra tanpa ditutupi benang sehelaipun. Aku membiarkan kedua tali dasternya menggelantung di lengan dekat sikunya karena aku tidak mau mengambil resiko kalau-kalau istriku terbangun. Lilo masih berdiri di sampingku dan dengan mulut yang masih ternganga ia menatapi payudara dan pantat Sandra yang kencang. Sesekali Lilo mengusap-usap tonjolan di selakangannya walau ia berusaha agar aku tidak melihatnya. Penisku sendiri sudah membesar dan berusaha memberontak keluar dari jahitan celana jeans yang kupakai. Aku terangsang bukan hanya karena melihat tubuh istriku namun juga karena apa yang sedang kuperbuat. “Jadi, bagaimana menurut elu?” aku berbisik lagi. “Gila, man! Gue ga percaya semua ini! Dia cantik banget! Gue sih cuma berharap…,” jawabnya sambil mengusap tonjolan penisnya sendiri. Aku berpikir sejenak, “Kalau sampai ia terbangun…, tapi lagipula aku memang akan mencobanya.”

Aku menarik Lilo semakin mendekat ke ranjang lalu aku menunjuk ke payudara istriku. “Ayo, pegang susunya. Tapi harus …dengan lembut, oke? Gue nggak mau ambil resiko nih.” Mata Lilo terbuka lebar sekali lalu mendekatkan dirinya ke tepi ranjang. Ia membungkuk sedikit dan menjulurkan tangan kirinya untuk meraih bulatan payudara istriku. Tangannya sedikit bergetar dan tangan kanannya ditekankan di selangkangannya seakan digunakannya sebagai penopang. Tapi aku tahu apa yang sebenarnya ia kerjakan. Jari-jari itu dijulurkan makin lama semakin mendekat sampai akhirnya ujung jarinya menyentuh kulit payudara Sandra tepat di bawah areola. Dengan hati-hati Lilo meletakkan ibu jarinya di bagian bawah payudara Sandra sebelum akhirnya ia geser perlahan-lahan naik ke puting susu tersebut. Sandra tidak bergerak. Saat ibu jarinya mencapai bagian areola, Lilo menggerakkan telunjuknya melingkari puting Sandra dengan lembut.

Aku kenal Sandra sejak jaman masih bersekolah. Kami berpacaran sejak saat itu dan akhirnya kami menikah. Dan dalam sepengetahuanku, tidak pernah ada pria lain yang pernah melihat tubuh Sandra sampai sejauh ini apalagi menyentuhnya. Lalu Lilo mulai meraba payudara itu dengan sangat lembut dari yang satu berpindah ke payudara yang lain. Sandra masih tak bergerak dalam tidurnya walaupun sepertinya terlihat nafas Sandra menjadi lebih cepat. Lilo mulai menjadi lebih berani dan dengan menambahkan sedikit tenaga, ia meremas kedua buah dada Sandra. Lilo sudah tidak menutup-nutupi usahanya untuk mengusap-usap penisnya dan kelihatannya ia berniat untuk menyemprotkan spermanya dari balik celananya. Aku masih belum puas untuk membiarkan semua ini berakhir saat itu, jadi aku menyuruhnya mundur sejenak sementara aku melepaskan tali-tali daster itu dari lengan Sandra. Aku menarik turun daster itu sejauh yang aku bisa tanpa harus menarik secara paksa kain daster. Aku berhasil membuka tubuh bagian atasnya sampai pada bagian bawah tulang rusuknya sebelah kiri. Lalu aku bergerak ke bagian pinggulnya. Dengan hati-hati aku menarik kain yang menutupi bagian bawah pantatnya lalu melepaskan kain itu dari kakinya yang menekuk. Hal ini memperlihatkan seluruh pantatnya dan sebagian dari bibir vaginanya. Lilo masih belum dapat melihatnya dari tempat ia berdiri saat ini. Aku mendengar ia sedang melakukan sesuatu di belakangku. Dan begitu berbalik badan, aku mendapatinya sedang memelorotkan celana jeansnya sebatas testisnya sehingga ia dapat leluasa mengocok penisnya. Aku kembali berbalik ke Sandra lalu meluruskan kaki kirinya. Hal ini membuat bulu-bulu halus kemaluannya dapat terlihat bahkan sampai hampir ke bibir vaginanya. Saat melihat aku melakukan hal ini, Lilo melongokkan badannya melewati badanku untuk melihat tubuh Sandra lebih jelas sementara ia bermasturbasi. Aku menarik kaki kiri Sandra dengan lembut sehingga membuat tubuhnya berbaring terlentang menghadap ke atas dan memperlihatkan seluruh tubuhnya secara frontal.

“Wahhhh, gila, man!” Lilo berbisik dan mulai mengocok penisnya lebih cepat.

“Jangan cepet-cepet, brur,” aku memperingatkan dia. “Elu mau pegang memeknya sebelum elu klimaks, kan?” Langsung Lilo berhenti mengocok dan menatapku dengan pandangan seperti anak kecil yang dihadiahi sepeda baru. “Mantap, man! Elu kasih gue…, ahhh, mantap, man!” Ia mengganti tangan kanan dengan tangan kirinya untuk memegang penisnya, tapi tidak mengocoknya. Lalu dengan tangan kanannya, yang sedari tadi digunakan untuk mengocok penisnya, ia menyentuh bulu-bulu kemaluan Sandra dengan perlahan. Lilo mulai membelai Sandra melalui bulu-bulu itu dengan jemarinya. Namun tidak sampai ke bibir vaginanya. Sandra masih terlelap namun nafasnya semakin bertambah cepat setelah Lilo mengusap-usap kemaluannya. Setelah itu dengan menggunakan jari tengah dan telunjuknya, Lilo mengusap turun ke sepanjang bibir vagina Sandra lalu mengusap naik lagi sambil menaruh jari tengahnya di antara bibir kemaluan tersebut. Begitu ia menarik tangannya ke atas, jari tengahnya membuka bibir vagina itu dan wangi harum vagina Sandra mulai memenuhi kamar.”Gilaaaaa, man!” desah Lilo sambil menarik ke atas jari-jarinya yang sudah masuk sedikit ke dalam liang kewanitaan istriku.Saat jari Lilo menyentuh klitorisnya, tubuh Sandra seakan tersentak sedikit lalu ia mendesah dengan suara yang nyaris tak terdengar. Melihat hal ini Lilo segera menarik tangannya.

Aku melihat bahwa istriku masih terlelap namun aku tidak yakin apakah perbuatan ini dapat membangunkannya atau tidak. Lilo menatap aku dan aku menganggukkan kepalaku memberi isyarat bahwa ia dapat melanjutkan. Lalu dengan menggunakan tangan kirinya, Lilo mengocok penisnya sampai cairan pelumas keluar dari ujung penisnya. Lilo menyapu cairan yang keluar cukup banyak membasahi kepala penisnya kemudian dengan tangan yang sama ia mulai mengusap-usap bibir kemaluan Sandra. Kadang ia membuka bibir vagina tersebut dengan jari tengahnya. Sesekali pinggul Sandra bergerak maju dan mundur sedikit dan ditambah dengan desahan lembut yang keluar dari mulutnya. Lilo sudah mengocok penisnya lagi. Lalu tiba-tiba sebuah ide timbul dalam otakku.
Dengan hati-hati aku menarik kaki kiri Sandra keluar dari ranjang sampai vaginanya berada tak jauh dari ujung ranjang namun masih cukup jauh bagi Lilo untuk menyetubuhi istriku. Penis Lilo tidak sepanjang itu dan lagipula aku tidak yakin apakah persetubuhan dapat membangunkannya. Dan juga aku tidak yakin apakah aku ingin Lilo menyetubuhi istriku karena hal ini masih baru buatku.
“Lo, ke sini deh,” aku berbisik sambil menarik lengannya. “Berdiri di antara pahanya. Dari sini elu bisa lebih leluasa mengusap-usap memeknya sambil ngocok. Tapi jangan ngentotin dia, ya? Elu denger, engga?” Lilo mengangguk dan segera pindah ke antara kedua paha Sandra. Lilo mengusap-usap vagina Sandra dengan jari-jari tangan kirinya dan mengocok penisnya dengan tangan kanan. Penis Lilo hampir sejajar tingginya dengan vagina Sandra dan berjarak sekitar 10 cm sementara ia mengocok penisnya dengan penuh nafsu. Lalu Lilo menggunakan ibu jarinya untuk mengusap-usap vagina Sandra sehingga ia dapat lebih mendekat lagi sampai pada akhirnya jarak antara penis dan vagina Sandra kurang dari 1½ cm.

Pinggul Sandra masih sedikit bergoyang-goyang sesekali dan pada satu saat, pinggul Santi bergerak ke bawah dan kepala penis Lilo bersentuhan dengan bibir vagina Sandra. Penis Lilo menggesek sepanjang bibir kemaluan istriku. Hal ini membuat Lilo meledak dan berejakulasi. Spermanya muncrat ke mana-mana dan sebagian besar tersemprot ke bibir vagina Sandra. Pada setiap semprotan, Lilo melenguh dan beberapa kali dengan ‘tanpa disengaja” ia menorehkan kepala penisnya ke bagian atas dari bibir vagina istriku. Lilo pasti sudah lama tidak berejakulasi karena sperma yang dikeluarkannya begitu banyak. Saat selesai klimaks, Lilo mengurut penisnya untuk mengeluarkan lelehan sperma yang masih tersisa di saluran penisnya. Ia membiarkan lelehan itu jatuh ke bibir vagina Sandra yang sedikit terbuka. Dan saat mengalir ke bawah di sepanjang bibir vagina tersebut, terlihat lelehan itu masuk lalu menghilang begitu saja seperti tertelan bumi.

Lilo memandangku dan berbisik, “Gilaaaa, man! Gue ga tau cara berterima kasih sama elu, Kris!”

Aku tersenyum kepadanya dan memapahnya mundur secara ia telah selesai dengan urusannya.Sekarang saatnya giliranku. Aku berdiri di antara kakinya lalu melepaskan celanaku dan mulai mengocok penisku. “Lilo, elu keluar sebentar deh. Gue mau coba tarik badannya lebih ke pinggir supaya gue bisa ngentotin dia,” aku berbisik dengan lebih kencang. Lilo menurut dan berjalan menuju pintu kamar kalau-kalau istriku terbangun. Aku menarik tubuhnya sampai pantat sebelah kirinya menggantung di pinggir ranjang. Selama itu Sandra tidak bangun sama sekali namun nafasnya masih berat dan dari vaginanya keluar cairan pelumas dari tubuhnya bercampur dengan sperma Lilo. Lalu aku menyuruh Lilo masuk ke kamar lagi untuk membantuku dengan menyangga kaki dan pantat kiri Sandra sehingga tanganku dapat kugunakan dengan bebas. Lilo meraih kaki kiri Sandra dengan tangan kirinya lalu dengan tangan kanannya ia menopang pantat Sandra. Aku melihat ia meremas pantat istriku saat ia mencoba menopangnya. Dan aku mulai menggesek-gesekkan penisku naik dan turun ke bibir vaginanya yang sudah basah. Vaginanya sangat amat basah. Cairan vagina Sandra yang bercampur dengan sperma Lilo, membuat liang kewanitaan Sandra menjadi sangaaaat licin. Bahkan aku sudah hampir klimaks jadi aku dengan perlahan memasukkan batang penisku ke dalam liang kemaluan Sandra yang panas.

Walau sudah sangat basah namun liang vagina Sandra masih sangat sempit secara Lilo tidak sempat melakukan penetrasi. Akan tetapi penisku dapat menembus dengan mudah. Segera aku memompa vagina Sandra dan setelah sekitar 10 pompaan maju mundur, Sandra mengalami orgasme dalam tidurnya!!! Hal ini sudah cukup membuatku melambung mencapai klimaks. Aku mulai menyemprotkan cairanku masuk ke dalam vaginanya dan tiap muncratan seakan tersembur langsung dari buah zakarku. Sandra mengerang-erang dalam tiap desahannya dan begitu pula aku.

Lilo berkata, “Gilaaaa, man!” namun kali ini ia tidak berbisik. Hal ini tidak jadi masalah karena Sandra tak bangun sedikitpun selama kami menggarap tubuhnya. Ketika aku menarik penisku, Lilo menaruh pantat dan kaki Sandra kembali ke ranjang. Lalu ia menunduk menjilati dan mengecup puting susu Sandra dan menyedotnya saat ia kembali menegakkan badannya. Aku sudah terlalu lemas untuk berkomentar dan akhirnya aku hanya menarik tangannya untuk keluar kamar. Saat aku berjalan mengantarnya ke luar rumah, Lilo tak habis-habisnya berterima kasih kepadaku. Aku melambaikan tangan lalu mengunci pintu. Aku masuk ke kamar, berbaring di atas ranjang di samping Sandra dan langsung terlelap begitu saja.

Keesokan harinya, Sandra membangunkanku dengan mencium telingaku. “Elu ga bakalan percaya apa yang gue mimpiin kemarin malam!” katanya membuka pembicaraan. “Gue bermimpi ada banyak tangan yang meraba-raba badan gue. Ngomong-ngomong, kemarin malam kita ngapa-ngapain ga, yah?” Aku teringat kalau aku tidak sempat membersihkan sperma yang tercecer di tubuhnya dan di ranjang sebelum pergi tidur kemarin. “Eeehhh…, iya lah. Memangnya elu engga ingat apa-apa?”
“Yaah…, gue ga tau yah. Semuanya kaya dalam mimpi gitu. Mungkin gue setengah tidur kali. Tapi yang pasti asyik deh. Bagaimana? Apa elu berniat untuk melakukannya sekali lagi sekarang selagi gue ga ketiduran?” Pikiranku melayang ke kejadian kemarin malam…, “Hmmmm, bagaimana yah? Menurut elu bagaimana?” aku tersenyum.

Pada minggu berikutnya di kantor aku terus memikirkan malam itu dimana Lilo hampir menyetubuhi istriku, Sandra. Aku dan Lilo tidak pernah menyinggung hal itu walau beberapa kali kami saling melepas senyum. Lilo melemparkan senyum penuh rasa terima kasih kepadaku.
Harus kuakui, aku sudah menjadi terobsesi dengan ide melihat istriku disetubuhi pria lain. Namun masih ada perasasan yang mengganjal. Melihat Lilo bermasturbasi di depan Sandra malam itu benar-benar tidak menjadi masalah bagiku. Tetapi dapatkah aku menerima melihat pria lain benar-benar berhubungan seks dengan istriku? Menjelang akhir minggu aku dapat melihat pandangan penuh harap dari wajah Lilo. Aku tahu apa yang ia pikirkan: “Apakah Kris bakal ngundang gue datang ke rumahnya lagi?”, “Apakah gue bisa dapat kesempatan dengan istrinya?”

Hari Jumat akhirnya tiba dan sebelum jam pulang kantor aku mengajak Lilo untuk berkunjung lagi ke rumahku. Kegembiraan yang besar meluap dari diri Lilo.

“Yeahhhhh! MANTAP!!! Gue bakal bawa bir dan beberapa film untuk kita tonton!” katanya dengan penuh semangat. “Oke. Datang jam 9-an deh,” jawabku. Aku tahu pada saat itu Sandra pasti sudah mulai mengantuk dan keberadaan Lilo akan mendorongnya untuk pergi tidur lebih cepat secara ia tidak begitu suka bergaul dengan Lilo. Aku merasa geli sesaat membayangkan hal itu. Jika saja Sandra tahu apa maksud kedatangan Lilo, ia pasti tidak akan tidur sepanjang malam, setidaknya sampai Lilo pulang.

Lalu aku melakukan sesuatu yang mengangetkan diriku sendiri. “Hey, Jo! Apa yang elu kerjakan malam ini?” aku bertanya. Josua adalah pribumi berkulit gelap. Tinggi badannya mencapai 190 cm dengan berat badan bisa mencapai 90 kg. Josua bukan seorang yang gemuk namun ia memiliki tubuh yang besar dan kekar. “Ah, ga banyak. Kenapa? Elu ada acara apa?” ia balik bertanya. “Sekitar jam 9 malam nanti Lilo bakal datang ke rumah gue untuk main-main. Minum, ngobrol, apa aja deh. Kalo engga salah denger dia bilang dia bakal bawa film-film BF. Gimana, berminat?” “Boleh, tapi mungkin gue bakal telat. Gue musti kerjain sesuatu untuk bokap, tapi ga lama deh,” jawabnya. “Engga masalah. Oke sampai ketemu nanti,” aku berkata sambil berpikir mungkin memang ada baiknya Josua datang setelah Sandra tertidur.

Aku menoleh dan melihat wajah Lilo yang terkejut, namun terkejut dalam nuansa yang menggembirakan. Aku tersenyum dan sambil mengedipkan mataku aku berjalan melewatinya, “Sampai nanti, Lo!” Malam itu saat makan malam, aku terus memikirkan rencana malam nanti. Aku membeli sebotol anggur dan meminumnya bersama Sandra dengan harapan ia dapat tertidur pulas malam itu. Seperti yang aku harapkan, tidak memerlukan waktu yang lama sampai Sandra mulai cekikikan karena pengaruh anggur yang ia minum. Suatu keuntungan yang tidak terduga anggur tersebut juga memberikan efek yang menstimulasi tubuhnya.

Dari bawah meja, Sandra mulai menggesek-gesekkan kakinya yang terbalut stoking ke pahaku. Kemudian setelah beberapa gelas anggur lagi, sambil menonton TV Sandra duduk menghadapku dengan satu kaki diletakkan di lantai dan kaki lainnya ditekuk sehingga ia mendudukinya. Hal ini menyebabkan roknya yang pendek tertarik ke atas sehingga memperlihatkan pahanya dan ujung stokingnya.

Ia membuka kakinya sedikit untuk memperlihatkan kepadaku celana dalamnya saat bel pintu rumahku berbunyi. “Aaaah!” ia memprotes. Aku bangkit berdiri untuk membukakan pintu. “Siapa yah yang datang malam-malam begini?” aku bertanya seakan tidak tahu bahwa yang datang adalah Lilo.

Setelah aku membuka pintu, Lilo masuk dengan kantong plastik di tangannya. Ia berdiri di samping pintu setelah aku menutup pintu itu. Lilo memandang Sandra dan mulai berbasa-basi dengannya. Saat kembali ke tempat dudukku, aku menyadari bahwa Sandra masih dalam posisi yang sama. Sandra duduk menghadap kami sambil memain-mainkan rambutnya. Ia benar-benar tidak sadar sedang memperlihatkan terlalu banyak bagian tubuhnya kepada Lilo saat ia duduk di sana dengan wajah yang terlihat kecewa. Lilo hanya berdiri mematung di sana sementara mereka saling berpandangan. Sandra memandangnya dengan pandangan kosong sedangkan Lilo memandangnya dengan pandangan tidak percaya. Tiba-tiba Sandra tersadar akan posisi duduknya dan cepat-cepat berbalik lalu menurunkan roknya. “Ayo duduk, Lo. Sini…, gue taruh di kulkas dulu,” kataku sambil mengambil kantong plastik yang berisi bir lalu berjalan ke dapur. Saat sedang memasukkan bir-bir itu ke dalam kulkas, terdengar olehku Lilo berkata kepada Sandra bahwa ia berharap kedatangannya tidak mengganggu acara aku dan Sandra. “Oh enggak,… nggak apa-apa kok,” terdengar jawaban Sandra. Aku tahu benar untuk bersikap sopan, Sandra membohongi Lilo. “Kita cuma duduk-duduk sambil nonton TV doang kok,… dan sudah berniat untuk tidur.”

Aku tahu Sandra mencoba untuk memberi isyarat kepada Lilo bahwa kedatangannya sudah mengganggu kami. Sandra memang tidak tahu apa-apa tentang rencana kami malam ini. “Apa rencana elu malam ini, Lo?” sambil memberi bir, aku bertanya kepada Lilo setelah kembali dari dapur. “Ah, nggak banyak lah. Cuma mampir untuk minum-minum sedikit.” “Boleh-boleh aja. Gimana menurut elu, San?” aku bertanya sambil memandangnya. Wajah Sandra menunjukkan kalau ia sudah pasrah bahwa Lilo akan tetap tinggal sampai larut malam. “Ya sudah, kalau begitu gue permisi dulu deh. Gue tidur duluan yah,” jawabnya dan bangkit dari sofa. “Bagus!” pikirku, semua sesuai dengan rencana. “Oke, San. Gue nyusul nanti,” kataku sambil tersenyum kepada Lilo. Dengan mulutnya, Lilo melafalkan tanpa suara, “Gue juga!” setelah Sandra berjalan melewatinya menuju kamar tidur. Setelah Sandra masuk ke kamar, Lilo dan aku duduk menatap TV dengan pandangan kosong. Tidak satupun dari kami yang membuka suara. Suasana saat itu menjadi tegang penuh harap apa yang akan terjadi nanti.

Sekitar pukul 10 malam, aku mendengar Josua memarkirkan mobilnya di depan rumah. Aku berdiri dan membuka pintu sebelum ia membunyikan bel. Sebenarnya aku tidak berpikir suara bel rumah kami akan membangunkan Sandra, namun aku tidak mau ambil resiko. Pada awalnya kami bertiga mengobrol sana-sini setelah Lilo memutar film yang dibawanya. Josua masih tidak tahu menahu tentang rahasia kecil kami. Aku sendiri masih belum yakin benar untuk mengikutsertakan Josua ke dalam rencana malam ini. Setelah 15-20 menit, aku melihat Lilo mulai gelisah. Berulang kali Lilo terlihat beringsut dari tempat duduknya dan memandangku seakan berharap mendapat kode persetujuan untuk memulai acara malam itu. “Gue permisi sebentar yah,” kataku sambil berdiri menuju kamar dan memberi isyarat kepada Lilo untuk tetap duduk di tempatnya. Aku mau memastikan semuanya sudah pada tempatnya sebelum acara dimulai. Dengan hati-hati aku berjalan masuk ke kamar. Sandra tidur terlentang di ranjang dengan memakai daster imut yang semi transparan. Aku rasa anggur yang diminumnya tadi sudah bereaksi dalam tubuhnya secara Sandra tidur dengan kaki yang agak mengangkang dan kedua lengannya tergeletak di atas kepalanya. Sandra terlihat sangat cantik terbaring di sana dengan mulut yang sedikit terbuka (seperti biasanya) dan rambut yang tergerai di atas bantal. Buah dadanya sudah dapat terlihat dari balik kain dasternya yang tipis, menjulang seperti dua gunung kembar.

Nampaknya semua sudah siap tanpa aku harus berbuat apa-apa. Aku bergerak menuju pintu WC dengan perlahan lalu membukanya sedikit sehingga kamar itu sedikit lebih terang oleh cahaya lampu dari WC. Lalu aku keluar bergabung dengan Lilo dan Josua yang masih menonton film porno yang sedang diputar. “Jo, elu mau bir lagi?” tanyaku berharap supaya ia segera pergi kencing. “Boleh, thanks!” jawabnya. Lilo mengikutiku berjalan ke dapur dan segera menghamburkan pertanyaannya, “Elu mau gimana kerjainnya?” “Ya, gue rasa kita musti tunggu Josua pergi ke WC dulu untuk kencing. Trus, barulah kita berdua masuk ke kamar dan melihat apa yang bakal dia perbuat.”
Lilo tersenyum dan kembali ke ruang tamu. Kami masih menonton beberapa menit setelah itu dan mengomentari adegan-adegan di film tersebut. Tak lama setelah itu Josua berkata, “Eh, Kris,… WC elu dimana?” “Tuh di sana,” kataku sambil menunjuk ke arah WC. Aku berusaha agar suaraku tidak terdengar terlalu antusias. Josua berjalan menuju WC. Setelah aku mendengar pintu WC dikunci, aku dan Lilo bergegas menuju kamar. Setelah berada di dalam kamar, pandangan Lilo melekat ke tubuh Sandra yang terbaring di atas ranjang. Josua tidak menutup pintu yang menghubungkan WC dengan kamar tidurku. Mungkin ia tidak menduga akan ada orang lain di sana.

Saat ia selesai, aku dapat mendengar ia menarik resletingnya dan bersiap keluar WC. Tiba-tiba aku mendengar Josua berhenti. Pasti ia telah melihat Sandra. Ia seakan berdiri berjam-jam di sana sambil memandang istriku terbaring di ranjang dengan payudaranya yang terlihat jelas dari balik daster transparan yang dipakainya, naik turun mengikuti irama nafasnya.

“Bangsaaattt!” aku mendengar Josua berbisik. Aku tidak dapat menahan geli dan tergelak. Josua mendengar suaraku dan melongokkan kepala masuk ke kamar dan mendapati kami sedang berdiri di sana. Segera aku menempelkan telunjuk ke bibirku dan menyuruhnya untuk tidak bersuara. Aku mengajaknya masuk. “Itu bini elo, Kris?” ia berbisik lagi. Aku mengangguk lalu menuntunnya menuju sisi ranjang. Lilo mengikut dari belakang dan berdiri di sebelah kiriku saat kami bertiga memandangi tubuh istriku dari jarak dekat. “Gimana menurut elu?” tanyaku kepada Josua sambil tersenyum. Ia menatap Sandra beberapa detik lagi lalu menoleh ke aku dan menatapku sambil menduga-duga ada apa di balik semua ini. “Cantik banget, Kris!” ia menjawab sambil setengah tersenyum. Perlahan-lahan aku meraih kain selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya lalu menarik kain itu sehingga memperlihatkan bagian perut Sandra. Aku terus menarik selimut itu sampai ke bagian antara pusar dan bulu-bulu kemaluannya. Kini kami dapat melihat ujung daster yang dipakainya. Dengan hati-hati aku meraihnya dan mengangkat daster itu melewati tubuh Sandra yang putih mulus, melewati payudaranya yang ranum. Puting susunya yang kemerahan mulai mengeras karena angin dingin tertiup yang diakibatkan oleh pergerakan tanganku dan dasternya. Aku bergeser ke sebelah kiri untuk memberi ruang bagi Josua untuk berdiri tepat di depan payudara Sandra. Sedangkan Lilo bergerak ke sebelah kanan Josua berdiri tepat di depan wajah Sandra. Tanpa membuang waktu, Lilo membuka celananya dan mulai mengocok penisnya sementara aku menuntun tangan Josua untuk meraba buah dada istriku dengan lembut.

Melihat perbedaan kontras antara tangannya yang besar dan hitam dengan kulit Sandra yang putih saat Josua meraba-raba payudara Sandra membuatku sangat terangsang! Tangannya sangat besar, hampir-hampir menutupi seluruh payudara Sandra yang berukuran sedang. Dengan lembut Josua menjepit puting susu Sandra dengan ibu jari dan telunjuknya sehingga terdengar desahan lembut keluar dari mulut Sandra. Sementara itu, Lilo sudah melepaskan celananya dan dengan mantap mengocok penisnya yang diarahkan tepat ke wajah Sandra yang hanya terpaut beberapa senti dari mulutnya yang sedikit terbuka. Lilo menoleh ke aku saat ia meremas penisnya yang mengeluarkan cairan pelumas. Cairan itu dibiarkannya meleleh dari kepala penisnya dan menetes tepat di bibir Sandra. Pada awalnya Sandra tidak bergerak sama sekali sementara cairan itu menggenangi bibir bawahnya. Namun sensasi yang dibuat cairan itu pada bibirnya membuat Sandra menyapu cairan itu dengan lidahnya dan menelannya.

Melihat hal ini, Josua ikut melepaskan celananya. Setelah melepaskan celana jeans dan celana dalamnya, aku melihat penis yang paling gelap dan terbesar yang pernah aku lihat. Mungkin setidaknya panjangnya lebih dari 25 cm dan tebalnya lebih dari 6 cm. Membayangkan penis sebesar itu menerobos masuk ke dalam vagina Sandra yang basah membuat diriku bersemangat namun ada perasaan khawatir juga. Aku sadar kalau sampai Josua memasukkan penisnya ke dalam vagina istriku, pasti penis Josua akan memaksa mulut vaginanya meregang sampai melebihi batas normal. Dan tidak ada keraguan dalam diriku bahwa hal ini pasti akan membangunkan Sandra walau seberapa lelapnya ia tertidur saat itu.

Josua memandangku sejenak sebelum ia menunduk dan mengulum puting susu sebelah kanan Sandra sambil mengocok penisnya. Lalu ia membungkukkan badannya sehingga pinggangnya maju ke depan dan mulai menggesek-gesekkan penisnya ke payudara sebelah kiri. Setelah mengocok penisnya beberapa saat, lendir pelumas mulai keluar dari ujung penisnya. Josua mengolesi cairan itu ke seluruh bulatan payudara dan puting susu Sandra dengan cara menggesek-gesekkan kepala penis itu ke payudara kirinya. Setelah menyuruh Lilo bergeser sedikit, aku menarik turun kain selimut sampai melewati ujung kakinya. Kini kami dapat melihat bulu-bulu halus kemaluannya yang masih tertutup oleh celana dalam semi transparan itu. Lilo menjamah kaki Sandra lalu mengelus-elusnya dari bawah bergerak ke atas semakin mendekat ke selangkangan Sandra sambil terus mengocok penisnya.

Hal ini merebut perhatian Josua. Ia kini menonton aksi Lilo sambil terus mengolesi payudara Sandra dengan cairan pelumas yang terus keluar dari penisnya. Rabaan Lilo akhirnya mencapai bagian atas paha Sandra. Ia membelai jari-jarinya ke bibir vagina istriku yang masih dilapisi kain celana dalamnya. Setelah Lilo membelai naik dan turun ke sepanjang bibir vaginanya, pinggul Sandra mulai bergoyang maju mundur walau hanya sedikit. Dan itu merupakan pergerakan Sandra yang pertama sejak semua ini dimulai (selain gerakan menjilat bibirnya tadi). Aku semakin bersemangat. Dengan lembut aku mengangkat tubuh Sandra sehingga aku dapat melepaskan celana dalamnya, pertama ke sebelah kiri lalu ke sebelah kanan. Setelah dapat menarik celana dalamnya sampai ke setengah pahanya, segera aku menarik celana itu sampai lepas dari kakinya. Sandra kini telanjang bulat di hadapan dua pria yang sudah dikuasai nafsu birahi. Melihat istriku yang cantik terbaring tanpa mengenakan busana di hadapan Lilo dan Josua sementara mereka meraba, menggesek dan menjelajahi setiap jenjang tubuh istriku, membuatku hampir meledak. Lilo menggeser kaki kiri Sandra sehingga keluar dari sisi ranjang lalu menyelinap ke antara pahanya dan dengan jari-jarinya mulai menjelajahi vagina Sandra yang rapat. Awalnya masih dengan hati-hati, dengan menggunakan ibu jarinya, Lilo mengusap-usap bibir vagina istriku dengan wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari liang kewanitaannya.

Kemudian Lilo memegang klitoris Sandra dengan ibu jari dan telunjuknya lalu memilinnya dengan lembut. Hal ini membuat Sandra mendesah dan menggeliat-geliat sehingga membawa kakinya ke pundak Lilo. Josua sambil menggesek-gesekkan batang penisnya ke kedua payudara Sandra juga meremas-remas payudara itu, menonton aksi Lilo di antara paha Sandra. Ketika perhatianku kembali kepada Lilo, ia sudah menggantikan jari-jarinya dengan lidahnya! Dengan lembut Lilo meletakkan salah satu jarinya ke liang kewanitaannya. Ia menahannya di sana beberapa saat sampai cairan vagina Sandra membasahi jari itu. Baru setelah itu ia menusukkan jari itu dengan perlahan masuk ke dalam vagina istriku. Sandra tersengal dan kedua kakinya dikaitkan di sekeliling kepala Lilo. Tanpa putus semangat, Lilo meneruskan serangannya dengan menggunakan lidah dan jarinya pada vagina istriku.

Tidak ada pria lain mana pun yang pernah melakukan hal ini terhadap Sandra selain dari diriku. Berdiri di antara Lilo dan Josua, aku langsung melepaskan celanaku dan mulai mengocok penisku sementara mereka menggarap istriku. Tiba-tiba Josua berpindah posisi dan dengan perlahan menarik bahu Lilo. Lilo memandang wajah Josua sejenak lalu pandangannya turun ke penis besarnya yang terarah tepat langsung ke mulut bibir kewanitaan Sandra. Lilo mundur mengijinkan Josua mengambil tempatnya yang langsung mengolesi kepala penisnya ke sepanjang bibir vagina istriku. Aku dapat melihat cairan pelumas yang keluar dari penisnya membasahi vagina dan bulu-bulu kemaluannya.

Aku terpekur dan tidak bisa bergerak sama sekali. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tahu bahwa Josua hendak menyetubuhi istriku dengan penis raksasanya, namun bukan hal itu yang meresahkan aku. Jauh dalam lubuk hatiku sebenarnya inilah yang aku inginkan dan yang sudah aku rencanakan. Akan tetapi aku tahu pasti bahwa Sandra akan terbangun begitu penis itu memasuki tubuhnya. Terlebih lagi aku baru menyadari bahwa diafragma (alat KB) Sandra tergeletak di atas meja. Biasanya, ia memakai diafragmanya ketika ia tahu kami berniat untuk melakukan ‘sesuatu’, bahkan jika ia pergi tidur sebelum aku tidur. Namun malam itu, aku rasa ia sudah mabuk sehingga lupa memakainya. Gambaran adegan pria berkulit gelap ini menyemprotkan air maninya ke dalam liang vagina istriku yang tidak dilindungi alat KB, memicu sesuatu dalam diriku walau sebenarnya aku INGIN melihat Josua menumpahkan spermanya ke dalam vagina Sandra. Aku sudah tidak dapat mengontrol keinginanku untuk melihat hal ini. Boleh dibilang aku memang sudah kehilangan kontrol atas situasi ini. Setelah membalur kepala penisnya dengan cairan yang keluar dari vagina Sandra, Josua menaruh kepala penis itu di depan mulut bibir vagina istriku lalu… menekannya masuk.

Dengan perlahan kepala penis itu mulai menghilang dari balik bibir vagina itu. Bibir vagina istriku meregang dengan ketat sehingga mencegah kepala penis itu masuk lebih dalam. Masih dalam keadaan terlelap, Sandra membuka mulutnya saat ia tersengal begitu merasakan sedikit rasa perih pada selangkangannya. Aku berpikir: Jika hanya kepala penisnya yang baru masuk saja sudah membuat istriku kesakitan, apa jadinya saat Josua mencoba untuk menghujamkan seluruh batang penis itu ke dalam tubuhnya? Tapi untunglah Josua bersikap lembut dalam serangan awal pada vagina Sandra. Dengan selembut mungkin dan dalam kondisinya yang sudah sangat terangsang, Josua menggoyangkan pantatnya dalam gerakan maju mundur yang pendek-pendek sehingga membuat bibir vagina istriku lebih meregang sedikit demi sedikit seiring dengan semakin mendalamnya tusukan penis itu.

Lilo kembali pindah ke depan kepala Sandra. Ia bermain-main dengan payudaranya sedang tangannya yang lain mengocok penisnya di atas wajah Sandra. Sesekali Lilo membungkuk dan dengan lembut mencium bibir istriku yang sedikit terbuka itu, menjulurkan lidahnya sedikit masuk ke dalam mulutnya sementara terus meremas-remas payudaranya sambil mengocok penisnya. Saat lidah Lilo menyentuh lidahnya, dengan gerak refleks Sandra menutup bibirnya sedikit sehingga bibirnya membungkus lidah Lilo. Dengan segera Lilo menarik wajahnya ke belakang lalu menyodorkan kepala penisnya masuk sedikit ke dalam bibir Sandra yang agak terbuka. Seperti sedang bermimpi erotis, Sandra mulai mengecup ujung kepala penis Lilo. Aku mendengar Lilo mengerang saat aku mendengar suara menyedot keluar dari bibir sandra

Perhatianku kembali kepada usaha penerobosan Josua terhadap tubuh istriku. Saat ini sudah sekitar 5 cm dari penisnya masuk ke dalam vagina Sandra dan bagian yang paling tebal dari penisnya hampir masuk ke dalamnya.
Tiba-tiba, seakan pembatas yang menghalangi penis itu masuk lebih dalam lenyap dalam sekejap, bagian penis yang paling tebal itu langsung masuk ke liang kewanitaan Sandra. Josua mulai menggenjot panggulnya dengan serius. Ia baru saja memasukkan 2/3 dari penisnya saat tiba-tiba…… SANDRA TERBANGUN!

Mula-mula kedua mata istriku melotot lalu ia tersengal dan mengeluarkan penis Lilo dari mulutnya sementara ia merasakan vaginanya meregang sampai batas maksimal. Kami bertiga diam membeku saat orientasi Sandra yang baru terbangun sedikit demi sedikit terkumpul dan pada akhirnya Sandra tersadar sepenuhnya akan apa yang sedang terjadi. Pandangannya berpindah dari penis Lilo yang menggantung di depan bibirnya lalu ke Josua yang penisnya sudah masuk ke dalam vaginanya. Tiba-tiba, yang benar-benar membuatku terkejut, Sandra melingkarkan kedua kakinya ke pantat Josua lalu menekankan tubuh Josua agar penisnya terbenam semakin dalam pada vaginanya. Sandra mengerang saat penis itu masuk 4 cm lebih dalam. Sudah sebagian besar dari batang penis itu masuk ke dalam tubuhnya dan dalam tiap hentakan, penis itu menerobos semakin dalam. Lilo menaruh kepala penisnya di bibir Sandra dan sekali lagi Sandra mulai menghisapi kepala penis itu. Namun konsentrasinya jatuh pada penis Josua yang meregang bibir vaginanya sampai batas yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Setiap kali Sandra hendak menghisap kepala penis Lilo, Josua menancapkan penisnya lebih dalam yang membuatnya terhenti sejenak dengan desahan yang keluar dari mulutnya. Aku mulai mengocok penisku dengan lebih cepat ketika aku melihat Josua menghujamkan seluruh batang penisnya ke dalam Sandra. Bibir vaginanya ikut tertarik ke dalam seiring dengan masuknya penis itu. Dan saat Josua menarik penisnya keluar, cairan cinta Sandra terlihat membasahi batang penis itu dan bagian dalam vaginanya terlihat ikut tertarik keluar seperti saat kita menarik keluar jari-jari kita dari dalam sarung tangan. Dalam waktu singkat Sandra berorgasme dengan KUAT! Penis Lilo terlepas bebas dari mulutnya saat ia melenguh dengan kuat, “OOOOHHHHHHhhhh…..!” Seluruh tubuhnya mengejang sementara gelombang demi gelombang orgasme menyapu seluruh tubuhnya dan tiap kali teriakannya semakin kencang secara orgasmenya berlanjut dan semakin menguat. Getararan-getaran dalam vagina istriku yang membungkus rapat penisnya akhirnya membuat Josua mencapai klimaksnya. Suara erangannya terdengar keluar dari dalam mulut Josua sementara ia menghujamkan penisnya dengan keras sekali lagi lalu memuntahkan cairan sperma jauh di dalam vagina Sandra. Erangan dan desahan mereka bercampur seiring dengan klimaks mereka yang akhirnya mereda juga. Cairan sperma yang terlihat seperti gumpalan besar meleleh saat Josua menarik penisnya dari dalam vagina istriku.

Dengan Sandra masih tergeletak lemas di atas ranjang, Lilo segera melompat ke antara kaki Sandra. Ia mengoles-oleskan penisnya ke vagina istriku yang basah oleh sperma Josua dan cairannya sendiri. Lalu dengan mudah Lilo memasukkan penisnya ke dalam vagina Sandra yang sudah meregang melebihi batas itu. Setelah beberapa genjotan, Lilo menarik penisnya dan mengarahkan ke lubang anus istriku. Bahkan aku pun belum pernah memasukkan penisku lewat pintu belakang. Aku menduga-duga apakah istriku akan menghentikan perbuatan Lilo.

Ternyata Sandra tidak memberikan perlawanan sedikitpun, namun demikian saat penis Lilo masuk setengahnya ke dalam liang duburnya, Sandra meringis kesakitan. Tak lama setelah itu, otot-otot duburnya mulai rileks dan Sandra mulai menggenjot pantatnya sehingga penis Lilo masuk sepenuhnya ke dalam anusnya. Josua berpindah ke dekat wajah Sandra. Ia memegang penisnya yang penuh dengan cairan sperma bercampur cairan cinta dari vaginanya di atas mulutnya. Dengan lembut Sandra membersihkan cairan itu dengan mulutnya dan sesekali memasukkan penis yang sudah melemas itu sejauh yang ia bisa ke dalam mulutnya. Walau sudah melembek, penis Josua tak kurang dari 18 cm panjangnya dan Sandra mampu menelan sampai sekitar 15 cm sementara Lilo memompa anusnya yang masih perawan. Suara erangan Lilo semakin membesar saat aku mengangkangi dada istriku dan menekan kedua payudaranya ke penisku yang sudah berdenyut-denyut. Dan aku mulai menggoyang-goyangkan pinggangku.

Sandra mengeluarkan penis Josua dari mulutnya dan mulai menjilati kepala penis itu sambil memain-mainkan penis dan buah zakarnya yang licin. Baru saja aku hendak memuntahkan spermaku ke atas dada dan wajah Sandra, aku mendengar Lilo mengerang untuk yang terakhir kalinya saat ia mengosongkan muatannya ke dalam pantat istriku. Hal ini membuatku mencapai klimaks dan menyemburkan cairanku ke dada Sandra. Secepat kilat aku meyodorkan penisku masuk ke dalam mulut istriku dan ia mulai menyedot seluruh semburan sperma yang masih tersisa. Sandra terus mengulum penisku yang melembek sementara aku terkulai lemas. Aku menoleh ke belakang melihat Lilo menarik penisnya dari dalam anus istriku dengan suara yang basah, “Thllrrrpp!” Lilo yang pertama kali mengeluarkan suara, “Gilaaaaa, man! Enak beneerrrr!” Aku hanya dapat menghela nafas begitu aku terkulai di samping Sandra. Sandra tersenyum kepadaku dengan wajah nakal dan imutnya. Sambil masih bermain-main dengan penis Josua yang besar itu,

Sandra berkata dengan pelan, “Elu bener-bener penuh kejutan, yah!”

“Bukan cuma gue, tuh,” jawabku, “Kelihatannya elu juga penuh kejutan!”

Aku diperkosa dirumahku sendiri

Aku adalah wanita berumur 25 tahun, sekarang aku tinggal sendirian di
rumahku yang terletak di salah satu komplek yang disebut sebagian
orang sebagai komplek orang berduit di wilayah Jakarta. Aku adalah
janda tanpa anak, suamiku telah meninggal enam bulan yang lalu karena
kecelakaan. Saat itu usia perkimpoian kami baru menginjak tahun kedua.
Rumah yang kutempati ini adalah hadiah perkimpoian untukku, suamiku
membeli rumah ini atas namaku. “Sebagai bukti ketulusan sayangku
padamu” katanya.

Rumah-rumah di komplekku terbilang saling berjauhan karena
masing-masing rumah memiliki pekarangan yang luas. Hidup di Jakarta
menyebabkan aku juga tidak begitu mengenal tetanggaku. Kami
masing-masing memiliki kehidupan sendiri-sendiri.

Sering aku merasa kesepian tinggal sendiri di rumah ini, tapi aku
tidak mau menggunakan jasa pramuwisma, aku ingin mengerjakan pekerjaan
rumahku sendiri. Alasanku pada mama sih biar aku ada kesibukan di
rumah, rasanya lebih enjoy kalau semua dikerjakan sendiri.

Malam itu aku pulang agak larut karena baru pulang dari acara ulang
tahun temanku. Setelah mengunci pintu depan aku mencari-cari kontak
lampu karena suasana rumahku masih gelap. Aku berangkat dari tadi
siang untuk bantu-bantu di acara ulang tahun tersebut. Begitu lampu
menyala, aku langsung menuju kamarku untuk mengganti baju yang kotor.

Aku melepaskan seluruh pakaianku lalu menyimpan baju kotorku di
keranjang yang memang kusediakan di kamar untuk pakaian kotor. Sungguh
aku sekarang telanjang bulat. Aku merasa sendiri di rumahku sehingga
aku merasa bebas walaupun ke ruang tengah atau ke dapur dalam keadaan
telanjang.

Aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Selesai mandi
rasanya badanku terasa segar. Kemudian duduk santai menonton TV di
ruang tengah sambil minum susu hangat. Aku hanya melilitkan handuk
pada badanku, sambil mengeringkan rambutku dengan kipas angin aku buka
channel TV sana-sini. Acaranya tidak ada yang menarik hatiku.

Iseng-iseng aku menonton film BF koleksi suamiku. Aku pernah protes
padanya karena dia menonton film begituan. Dia hanya tersenyum dan
mengatakan bahwa dia mencari style bercinta untukku. Di film itu pria
bule sedang mencumbu seorang wanita asia yang kelihatannya begitu
menikmati cumbuan dari pri bule. Aku sedikit terangsang melihat adegan
itu, seandainya suamiku masih ada….

Aku melepaskan handuk yang melilit badanku, lalu mengelus-elus
payudaraku sendiri dengan lembut. Payudaraku memang tidak begitu
besar, tapi suamiku selalu memujiku dengan sebutan montok. Untuk
urusan mengurus badan, aku memang agak telaten. Karena bagiku
kecantikan wanita dan kemulusan badan itu adalah harga mati. Aku tidak
menyadari sama sekali kalau ada sepasang mata yang memperhatikan
kegiatanku

Kuelus-elus buah dadaku dengan lembut hingga terus terang menimbulkan
rangsangan tersendiri bagiku. Libidoku tiba-tiba datang dan hasratku
jadi memuncak, rasanya aku ingin berlama-lama, matakupun tak terasa
mulai sayu merem melek merasakan rangsangan.

Kali ini bukan lagi belaian yang kulakukan, tapi aku sudah mulai
melakukan remasan ke buah dadaku. Kupilin-pilin puting susuku dengan
menggunakan ibu jari dan jari telunjukku. Nikmat sekali rasanya.
Tanganku perlahan-lahan turun mengelus-elus selangkanganku. Saat
jari-jariku mengenai bibir-bibir vaginaku, aku pun merasakan darah
yang mengalir di tubuhku seakan mengalir lebih cepat daripada
biasanya.

Aku terangsang sekali, liang vaginaku sudah dibanjiri oleh lendir yang
keluar membasahi bibir vaginaku. Lalu jari-jariku kuarahkan ke
klitorisku. Kutempelkan dan kugesek-gesek klitorisku dengan jariku
sendiri hingga aku pun tak kuasa membendung gejolak dan hasratku yang
semakin menggebu. Badanku melengkung merasakan kenikmatan,
kukangkangkan pahaku semakin lebar. Jari tengah dan telunjuk tangan
kiriku kupakai untuk menyibak bibir vaginaku sambil
menggesek-geseknya. Sementara jari tengah dan telunjuk tangan kananku
aktif menggosok-gosok klitorisku.

Kualihkan jari tangan kananku ke arah lipatan vaginaku. Ujung jariku
mengarah ke pintu masuk liang kenikmatanku, kusorongkan sedikit masuk
ke dalam. Liang vaginaku sudah benar-benar basah oleh lendir yang
licin hingga dengan mudahnya menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku.
Kini jari tangan kiriku sudah tidak perlu lagi menyingkap bibir
kemaluanku lagi hingga kualihkan tugasnya untuk menggesek-gesek
klitorisku.

Kukocokkan jari tangan kananku keluar masuk liang vaginaku.
Jari-jariku menyentuh dan menggesek-gesek dinding vaginaku bagian
dalam, ujung-ujung jariku menyentuh G-spot, punggung dan kepalaku jadi
tersandar kuat pada sofa di ruang tengah, seakan-akan tubuhku
melayang-layang dengan kenikmatan tiada tara.

Aku sudah benar-banar mencapai puncaknya untuk menuju klimaks saat ada
sesuatu yang rasanya akan meledak keluar dari dalam rahimku, ini
pertanda aku akan segera mencapai orgasme. Gesekan jari tangan kiri di
klitorisku makin kupercepat lagi, demikian pula kocokan jari tangan
kanan dalam vaginaku pun makin kupercepat pula. Untuk menyongsong
orgasmeku yang segera tiba, kurasakan kedutan bibir vaginaku yang
tiba-tiba mengencang menjepit jari-jariku yang masih berada di dalam
liang senggamaku.

Bersamaan dengan itu aku merasakan sesekali ada semburan dari dalam
yang keluar membasahi dinding vaginaku. Aku serasa sedang kencing
namun yang mengalir keluar lebih kental berlendir, itulah cairan
maniku yang mengalir deras.

“AHH……..” aku terpekik, lalu tubuhku bergetar hebat. Setelah beberapa
detik baru terasa badanku seperti lemas sekali.

Mataku terpejam sambil menikmati rasa indah yang menjalar di sekujur
badanku, tiba-tiba tersa ada benda dingin menempel di leherku. Mataku
sedikit terbuka, lalu…..

” Diam atau lehermu akan terluka.” Suara seorang laki-laki terdengar
mengejutkanku. Jantungku rasanya hampir berhenti menyadari ada pria
yang menempelkan pisau ke leherku, dan aku dalam keadaan telanjang……..

Aku terdiam tak berdaya ketika dia berusaha mengikat tanganku. Aku
takut kalau dia merasa terancam, maka dia akan membunuhku. Matanya
jelalatan melihat tubuhku yang tidak tertutup sehelai kain. Terbersit
penyesalan dalam hatiku, kenapa aku sangat gegabah. Bagaimana dia
masuk ke dalam rumah ini, dan apa yang akan mereka lakukan. Segala
macam perasaan dalam diriku saat itu.

“He.. he.. he… ……cantik, ijinkan aku untuk membantumu menyelesaikan
hasrat terpendam dalam dirimu.” Lelaki itu duduk disampingku.

“Nah cantik…. Sekarang Abang akan memuaskanmu.” Laki-laki yang
memanggil dirinya Abang kemudian dengan kalemnya dia raih tangan dan
pinggangku untuk memelukku. Antara takut dan marah, aku masih berontak
dan berusaha melawan. Kutendangkan kakiku ke tubuhnya sekenanya,
tetapi.. Ya ampuunn.. Dia sangat tangguh dan kuat bagiku.

Lelaki itu berpostur tinggi pula dan mengimbangi tinggiku, dan usianya
yang aku rasa tidak jauh beda dengan usia suamiku disertai dengan
otot-otot lengannya yang nampak gempal saat menahan tubuhku yang terus
berontak.

Dia lalu menyeretku menuju ke kamar tidurku. Aku setengah
dibantingkannya ke ranjang. Dan aku benar-benar terbanting. Dia ikat
tanganku ke backdrop ranjang itu. Aku meraung, menangis dan berteriak
sejadi-jadinya, tapi hanya terdengar gumaman dari mulutku karena
mereka membekap mulutku. hingga akhirnya, sehingga aku menyadari tidak
ada gunanya lagi berontak maupun berteriak. Sesudah itu dia tarik
tungkai kakiku mengarah ke dirinya. Dia nampak berusaha menenangkan
aku, dengan cara menekan mentalku, seakan meniupi telingaku. Dia
berbisik dalam desahnya,

“Ayolah cantik, jangan lagi memberontak. Percuma khan, jarak antar
rumah di komplek ini cukup berjauhan. Lagian kalaupun ada yang tahu
mereka tidak akan berani menggangu”.

Aku berpikir cepat menyadari kata-katanya itu dan menjadi sangat
khawatir. Laki-laki ini seakan-akan sengaja memperhitungkan keadaan.
Kemudian dengan tersenyum dia benamkan wajahnya ke ketiakku. Dia
menciumi, mengecup dan menjilati lembah-lembah ketiakku. Dari sebelah
kanan kemudian pindah ke kiri. Menimbulkan rasa geli sekaligus
membangkitkan gairah. Tangan-tangannya menjamah dan menelusup kemudian
mengelusi pinggulku, punggungku, dadaku. Tangannya juga meremas-remas
susuku. Dengan jari-jarinya dia memilin puting-puting susuku. Disini
dia melakukannya mulai dengan lembut dan demikian penuh perasaan.
Bajingan! Dia pikir bisa menundukkan aku dengan caranya yang demikian
itu. Aku terus berontak dalam geliat.. Tetapi aku bagaikan mangsa yang
siap diterkam.

Aku sesenggukan melampiaskan tangisku dalam sepi. Tak ada suara dari
mulutku yang tersumpal. Yang ada hanya air mataku yang meleleh deras.
Aku memandang ke-langit-langit kamar. Aku merasa sakit atas ketidak
adilan yang sedang kulakoni. Kini lelaki itu menatapku. Aku
menghindari tatapan matanya. Dia menciumi pipiku dan menjilat air
mataku,

“Kamu cantik banget….. ” dia berusaha menenangkanku.

Dia juga menciumi tepian bibirku yang tersumpal. Tangannya meraba
pahaku dan mulai meraba-raba kulitku yang sangat halus karena tak
pernah kulewatkan merawatnya. Lelaki ini tahu kehalusan kulitku. Dia
merabanya dengan pelan dan mengelusinya semakin lembut. Betapa aku
dilanda perasaan malu yang amat sangat. Hanya suamiku yang melihat
auratku selama ini, tiba-tiba ada seorang lelaki asing yang demikian
saja merabaiku dan menyingkap segala kerahasiaanku.

Aku merasakan betisku, pahaku kemudian gumpalan bokongku dirambati
tangan-tangannya. Pemberontakanku sia-sia. Wajahnya semakin turun
mendekat hingga kurasakan nafasnya yang meniupkan angin ke
selangkanganku. Lelaki itu mulai menenggelamkan wajahnya ke
selangkanganku.

” Ah…..” Bukan main. Belum pernah ada seorangpun berbuat macam ini
padaku. Juga tidak begini suamiku selama ini. Aku tak kuasa menolak
semua ini. Segala berontakku kandas. Kemudian aku merasakan lidahnya
menyapu pori-pori selangkanganku.

Lidah itu sangat pelan menyapu dan sangat lembut. Darahku berdesir.
Duniaku seakan-akan berputar dan aku tergiring pada tepian samudra
yang sangat mungkin akan menelan dan menenggelamkan aku. Aku mungkin
sedang terseret dalam sebuah arus yang sangat tak mampu kulawan. Aku
merasakan lidah-lidah lelaki ini seakan menjadi seribu lidah. Seribu
lidah lelaki ini menjalari semua bagian-bagian rahasiaku. Seribu lidah
lelaki inilah yang menyeretku ke tepian samudra kemudian menyeret aku
untuk tertelan dan tenggelam. Aku tak bisa pungkiri. Aku sedang jatuh
dalam lembah nikmat yang sangat dalam.. Aku sedang terseret dan
tenggelam dalam samudra nafsu birahiku. Aku sedang tertelan oleh
gelombang nikmat syahwatku yang telah enam bulan tidak terlampiaskan
semenjak suamiku meninggal.

Dan saat kombinasi lidah yang menjilati selangkanganku dan sesekali
dan jari-jari tangannya yang mengelusi paha di wilayah
puncak-puncaknya rahasiaku, aku semakin tak mampu menyembunyikan rasa
nikmatku. Isak tangisku terdiam, berganti dengan desahan dari balik
kain yang menyumpal mulutku. Dan saat kombinasi olahan bibir dan lidah
dipadukan dengan bukan lagi sentuhan tetapi remasan pada kemaluanku,
desahanku berganti dengan rintihan yang penuh derita nikmat birahi.

Laki-laki itu tiba-tiba mrenggut sumpal mulutku.Dia begitu yakin bahwa
aku telah tertelan dalam syahwatku.

“Ayolah, sayang.. mendesahlah.. merintihlah.. Puaskan aku…..”

Aku mendesah dan merintih sangat histeris. Kulepaskan dengan liar
derita nikmat yang melandaku. Aku kembali menangis dan mengucurkan air
mata. Aku kembali berteriak histeris. Tetapi kini aku menangis,
mengucurkan air mata dan berteriak histeris beserta gelinjang
syahwatku. Aku meronta menjemput nikmat. Aku menggoyang-goyangkan
pinggul dan pantatku dalam irama nafsu birahi yang menerjangku.

Aku tak mampu mengendalikan diriku lagi. Aku bergoncang-goncang
mengangkat pantatku untuk mendorong dan menjemputi bibirnya karena
kegatalan yang amat sangat pada kemaluanku dilanda nafsu birahi. Dan
kurasakan betapa kecupan dan gigitan lidah lelaki ini membuatku
seakan-akan menggigil dan gemetar lupa diri.

“Masukin… bang.. auh… aku gak tahan…..” aku mendesah tidak karuan.
Akhirnya karena tak mampu aku menahannya lagi aku merintih.

Rintihan itu membuat lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga
bisa kuraih bibirnya. Aku rakus menyedotinya. Aku berpagut dengan
pemerkosaku. Aku melumat mulutnya. Aku benar-benar dikejar badai
birahiku. Aku benar-benar dilanda gelombang syahwatku.

Aku betul-betul tidak sabar menunggu dia melepas pakaiannya. Aku masih
berkelojotan diranjang. Dan kini aku benar-benar menunggu lelaki itu
memasukkan kontolnya ke kemaluanku pula. Aku benar-benar berharap
karena sudah tidak tahan merasakan badai …

…birahiku yang demikian
melanda seluruh organ-organ peka birahi di tubuhku. Tiba-tiba aku
merasakan sesuatu yang sama sekali diluar dugaanku. Aku sama sekali
tak menduga, karena memang aku tak pernah punya dugaan sebelumnya.
Kemaluan lelaki ini demikian gedenya.

Rasanya ingin tanganku meraihnya, namun belum lepas dari ikatan dasi
di backdrop ranjang ini. Yang akhirnya kulakukan adalah sedikit
mengangkat kepalaku dan berusaha melihat kemaluan itu. Ampuunn..
Sungguh mengerikan. Rasanya ada pisang ambon gede dan panjang yang
sedang dipaksakan untuk menembusi memekku. Aku menjerit tertahan. Tak
lagi aku sempat memandangnya.

Lelaki ini sudah langsung menerkam kembali bibirku. Dia kini berusaha
menjulurkan lidahnya di rongga mulutku sambil menekankan kontolnya
untuk menguak bibir vaginaku. Kini aku dihadapkan kenyataan betapa
besar ****** di gerbang kemaluanku saat ini. Aku sendiri sudah
demikian dilanda birahi dan tanpa malu lagi mencoba merangsekkan
lubang kemaluanku.Cairan-cairan kewanitaanku membantu ****** itu
memasuki kemaluanku.

“Blesek……..Blesek………. Ohh…… Kenapa sangat nikmat begini…….. Oh aku
sangat merindukan kenikmatan ini…..” Aku semakin meracau.

Sensasi cengkeraman kemaluanku pada bulatan keras batang besar ******
lelaki ini sungguh menyuguhkan fantasy terbesar dalam seluruh hidupku
selama ini. Aku rasanya terlempar melayang kelangit tujuh. Aku
meliuk-liukkan tubuhku, menggeliat-liat, meracau dan mendesah dan
merintih dan mengerang dan.. Aku bergoncang dan bergoyang tak
karuan…. Orgasmeku dengan cepat menghampiri dan menyambarku. Aku
kelenger dalam kenikmatan tak terhingga.. Aku masih kelenger saat dia
mengangkat salah satu tungkai kakiku untuk kemudian dengan semakin
dalam dan cepat menggenjoti hingga akhirnya muntah dan memuntahkan
cairan panas dalam rongga kemaluanku.

“Auh………. AHH…… ” aku menjerit merasakan gelombang-gelombang listrik
kenikmatan menjalar di sekujur tubuhku.

Kami langsung roboh. Hening sesaat. Aneh, aku tak merasa menyesal, tak
merasa khawatir, tak merasa takut. Ada rasa kelapangan dan kelegaan
yang sangat longgar. Aku merasakan seakan menerima sesuatu yang sangat
aku rindukan selama ini. Apakah aku memang hipersex atau memang karena
lelaki ini memang tangguh dan pandai bercinta. Ah aku tidak mau
berfikir lagi.. Akupun tertidur kelelahan.

Besok pagi aku terbangun dengan badan sedikit pegal-pegal. Tidak ada
tanda-tanda dia masih ada di rumah. Dan kuperiksa tidak ada barang
yang hilang. Apakah dia memang datang untuk memperkosaku?….
kadang-kadang aku masih inigin melakukan hal yang sama. Aku merindukan
kontolnya yang telah membuatku mencapai kenikmatan tertinggi dalam
bercinta. Dimanakah kamu……

Sandra dan Tukang Kebun

Namaku Sandra, umurku baru 14, tinggal bersama kedua orangtuaku di
sebuah kompleks perumahan elite di Jakarta. Tapi karena kesibukan yang
padat, kedua orangtuaku sering tidak dirumah.

Biar ku ceritakan dahulu mengenai aku, agar kalian punya gambarannya.
Tinggiku 147cm, beratku hanya 45kg, kulitku putih mulus tanpa cacat
sekecil apapun, maklum, aku anak keturunan chinese yang sangat
terawat. aku anak tunggal kesayangan yang bisa dibilang agak ‘kuper’,
dikarenakan lingkunganku yang selalu dibatasi oleh kedua ortu ku.
teman-2x ku pun hanya beberapa, itupun kebanyakan cewek semua. Jadi
pengetahuanku mengenai kehidupan sangat sedikit, apalagi mengenai sex,
bisa dibilang nol besar. sampai umur seginipun aku tak pernah tahu apa
itu sex, kehamilan, kontol anak laki, ciuman, dll. selebihnya bayangin
aja sendiri betapa ‘kuper’nya aku ini.

Ok, aku lanjutkan ceritaku. Dirumahku yang lumayan besar itu, hanya
ada aku dan pembantu-2x ku. yang 2 orang adalah pembantu rumah tangga,
yang satu Bi Yem, orangnya udah tua banget, sedang satunya adalah
cucunya yang berumur 1 tahun dibawah umurku, 13 thn, panggilannya No,
adalah kacungku. seorang lagi adalah tukang kebunku yang sudah tua,
Pak Mat, umurnya sudah sekitar 65 tahun, dan seorang lagi sopir
papaku, namanya Bang Jun, umurnya sekitar 30 tahunan. Itulah isi
rumahku saat ortuku tidak dirumah.

Pada suatu hari, aku pulang dari sekolah, kedua ortuku udah bepergian
keluar negeri lagi untuk waktu yg tidak tentu. sopirku minta ijin
untuk pulang karena ada suatu urusan, bi Yem sepagian pergi dengan
cucunya untuk menengok saudaranya di Tangerang selama 1 hari. Jadilah
aku dan pak Mat berdua aja.

Selesai makan siang, aku duduk-2x di halaman belakangku yang luas.
Disana pak Mat sedang menyirami kebun. Iseng-2x aku jalan-2x didekat
pak Mat, dan kugoda dia dengan menginjak selang airnya. Bingung karena
air tidak keluar, dia lihat kebelakang da ketahuan bahwa selang airnya
sedang ku injak, setelah injakkan kulepas, pak Mat mengarahkan air
yang telah menyembur tadi ke arahku sambil ketawa-tawa.

Tapi apa yg terjadi, air membasahi tubuh dan kausku, pada saat itu aku
hanya mengenakan kaus panjang sebatas atas lutut, tanpa mengenakan BH,
hanya celana dalam aja. Kontan, bentuk tubuhku terlihat jelas dari
balik kausku tsb. Buah dadaku yg cukup besar untuk ukuran tubuh dan
umurku itu terlihat jelas sekali menantang, bayangkan, 32B dengan
tinggiku yg hanya 147cm dan agak ceking, maklum, bagaimana sih tubuh
anak perempuan yg masih SMP. Tubuhku yang masih sangat muda dan ranum
belum tersentuh itu, dipandangi oleh pak Mat dengan melongo. Entah
gimana mulanya, tahu-2x pak Mat telah mendekati ku dan meremas buah
dadaku, aku hanya bisa diam dan bengong krn aku tidak pernah
diperlakukan seperti itu sebelumnya. pak Mat adalah tukang kebun
keluarga kami yg telah lama ikut keluargaku, bisa dibilang, dia sudah
ada sejak aku masih bayi. Jadi, keluarga kami sangat mem-percayainya.
pak Mat berkata ‘non, susu non besar juga yah…, enak nggak
diginiin?’ sambil tangannya terus meremas-remas susuku. Aku yg belum
mengerti apa yg sedang dilakukannya menjawab ‘agak geli pak, tapi koq
enak ya… pak Mat sedang mijitin aku yahh?’ tanyaku manja. ‘iya. kan
dari kecil pak Mat yg ngerawat kamu. Mau nggak pa Mat ajarin sesuatu?’
tanyanya. ‘ajarin apa sih, pak?’ tanyaku polos. ‘setiap anak yang mau
dewasa harus diajarin ini supaya nanti nggak malu ama temen-2x kamu,
mau nggak?’ desaknya. ‘iya deh’ sahutku. Tanpa banyak bicara lagi, pak
Mat mengajakku ke biliknya di ujung halaman belakang rumahku yg besar
itu. Memang bilik untuk pegawai kami ada diujung belakang rumahku.

Setelah masuk kebiliknya, dia tutup pintunya lalu dikuncinya dari
dalam. ‘non tahu apa itu kontol?’ pancingnya. ‘apa sih kontol itu, pak
Mat. koq aku nggak pernah dengar sih?’ tanyaku dengan wajah serius.
Setelah itu dia melepas seluruh pakaian dan celananya sampai telanjang
bulat. aku yang masih polos itu diam aja sambil memperhatikan dengan
seksama, aku sama sekali tidak mengerti bahwa aku akan mendapat
pengalaman yg tak terlupakan sampai sekarang. Setelah telanjang, dia
menggenggam kontolnya dan menunjukkan padaku, ‘Nah, ini adalah kontol,
non. Semua anak yg mau dewasa harus tahu ini. bukan hanya tahu tapi
juga harus merasakannya. coba non pegang, nanti aku ajarkan lagi’
ujarnya sambil gemetar menahan nafsu. Aku coba pegang kontolnya yang
besar itu, ya ampun aku hampir tak dapat memegangnya dengan kedua
tanganku. ‘Sekarang coba kocokkan seperti ini’ sambil memberi contoh’
aku laksanakan perintahnya, kukocok kontolnya dengan gemas, habis
makin lama makin besar dan panjang sih. ‘Nah, non pernah ngemut permen
kan? coba sekarang kau lakukan seperti itu pada kontolku’ nadanya
semakin bergetar. Dia berdiri disamping tempat tidurnya dan aku duduk
disamping tempat tidurnya sambil membimbing kontol yg ada di
genggamanku ke arah mulut ku yg mungil dan merah itu. Aku masukkan
kedalam mulutku dengan susah payah, besar sekali pikirku. jadi
kujilati dulu kepala kontolnya dengan seksama. pak Mat mendesah-2x
sambil mendongakkan kepalanya. kutanya ‘kenapa pak, sakit ya, maafkan
aku pak.’ ‘ah nggak koq, malah enak sekali lho, terusin, terusin,
jangan berhenti, nanti kalo kau masukkan kedalam mulutmu, kontol ku
jangan terkena gigimu yah, terusin’ ujarnya sambil merem melek
kenikmatan. Aku teruskan aksiku, aku jilatin kontolnya mulai dari
kepala kontolnya sampai ke pangkal batang, aku terusin ke buah
pelirnya, semua aku jilatin seperti aku jilatin permen kesukaan ku,
sekarang aku coba untuk memasukkan kedalam mulutku lagi, udah bisa
masuk, udah licin terkena ludahku, aku mulai menyukai ajarannya. Pak
Mat memegangi kepalaku dengan satu tangannya sambil memaju-mundurkan
pantatnya, seperti orang ngentot. Sedang tangan satunya lagi meremas
susuku sebelah kanan. Gerakannya semakin lama semain cepat, akhirnya
dia berkata ‘aduh non, sebentar lagi aku mau keluarin pejuh ku, nanti
kau rasakan gimana rasanya yah. setelah itu harus kau telan’
perintahnya, tapi belum lama dia berkata itu, aku merasakan suatu
cairan keluar dari kontolnya, rasanya aneh, kurasakan sekali lagi lalu
kutelan dengan 2 kali telan karena pejuhnya ternyata banyak sekali.
pada saat pejuhnya keluar, terdengar suara pak Mat menggeram keras dan
panjang. ‘ Nnnnggghhh…….ggnnnnnhh….hhhkkkkhh…’

‘Aduh non, enak sekali mulutmu itu. kontol pak Mat enak nggak?’
tanyanya dengan ..terputus-2x kepuasan. ‘Mmmhh, enak pak. pejuh nya juga
enak, aku nggak pernah makan seperti ini, ada lagi nggak pak?’ tanyaku
kurang puas. ‘sebentar lagi non akan merasakan yag lebih enak dari
tadi, mau nggak?’ tanyanya sambil melepasi kaus dan celana dalamku.
setelah aku telanjang, dia tidurkan aku diatas ranjangnya, sambil
susuku diremasnya terus. Dia jilati seluruh tubuhku, mulai dari ujung
kepala sampai ujung kaki. dijilatinya pula seluruh bongkah susuku,
disedotnya pentilku sampai aku gemetar. Kakiku dan kedua pahaku yg
mulus itu dibukanya sambil dielus-2x dengan satu tangan masih di
susuku. Setelah itu memekku dijilatin dengan lidahnya yg kasar. wuihh
rasanya nggak keruan, geli banget deh, rasanya pengen pipis. Bukan
hanya bibir memekku aja yg dijilatinnya, tapi lidahnya juga masuk
kelubang memekku, aku jadi menggelinjang-2x nggak terkontrol, wajahku
merah sekali sambil terdongak keatas. Sementara itu diapun naik ke
atas ranjang sambil mengarahkan kontolnya ke wajahku, aku tahu apa yg
diinginkannya, ku pegang kontolnya yg sudah agak mengecil. kusedot
lagi kontolnya, masih ada sisa pejuhnya diujung kepala kontolnya,
kujilatin. Jadi posisi ku ada dibawahnya sambil menjilati kontolnya,
dia ada diatas ku sambil memasukkan lidahnya kelubang memekku. Setelah
kontolnya sudah keras dan panjang lagi, dan memekku sudah banjir
dengan ludahnya, dia cabut kontolnya dari mulutku.

Dia berbalik posisi, sekarang wajahnya diatas wajahku, dan kontolnya
mengarah ke memekku. Pak Mat berkata ‘non akan merasakan sakit
sedikit, tapi setelah itu non akan merasakan kenikmatan yg luar biasa.
Non kuat menahan sakit kan?’ aku merasa tertantang dan menjawab
singkat ‘kuat pak’.

Setelah itu dia mulai memasukkan kontolnya yg besar dan panjang itu ke
lubang memekku. pantatnya semakin didorong dan didorong, sampai aku
merem menahan sakit dan perih di memekku. setelah itu dia gerakkan
kontolnya keluar dan masuk dimemekku yg masih sempit itu. ‘wuah, non,
sempit betul memekmu, sampai sakit kontolku dibuatnya, ini memang
rejekiku, dapat memek gadis sekecil dirimu, tak pernah terbayang
dibenakku aku akan menikmati tubuhmu, keperawananmu, memekmu yg sempit
ini, ternyata ngentot dengan anak juragan lebih enak dari segalanya.
ooohhhh….mmhhh…aaahhh….’ pak Mat menggumam tak keruan.

Aku mulai merasakan nikmat yg tak terkatakan, luar biasa enak sekali
rasanya. secara naluri aku gerakkan pantatku ke kanan dan ke kiri,
mengikuti gerakan kontolnya yg keluar masuk, wuihh tambah nikmat.
kulihat wajah pak Mat yg sudah tua dan kempot itu serasa menikmati
sekali gesekkan kontolnya dilubang memekku itu. Apabila ada yang
melihat kejadian itu, pasti mereka bakal mengira bahwa aku sedang
diperkosa oleh orang tua itu, karena kalau dilihat fisiknya, aku lebih
cocok jadi cucunya, umurnya udah 65thn, sedang umurku baru 14thn,
wajahnya dan tubuhnya udah keriput dan kempot, kulitnya kasar dan
hitam karena sering terbakar matahari, selain itu dia juga orang
pribumi. Sedang tubuhku yg masih muda ini, putih bak pualam, karena
aku seorang putri seorang boss, keturunan chinese, terawat bersih,
kulitku mulus, wajah ku yg imut ini cantik seperti anak orang jepang.
Sungguh perpaduan yg sangat berbeda, Tapi bila dilihat lebih dekat,
ternyata si orang tua itu tidak memperkosaku, tubuhnya yg hitam berada
di atas tubuhku yang putih mulus, bergoyang-goyang maju mundur,
kepalanya memperhatikan kontolnya sendiri yang sedang keluar masuk
dilubang memek seorang anak kecil baru berusia 14 thn, anak juragannya
sendiri, seorang anak keturunan chinese, rupanya dia tidak habis pikir
bagaimana untung nasibnya mendapat kesempatan mencicipi tubuh anak
juragannya yang masih perawan itu.

Selang beberapa saat, pak Mat mengajak ganti posisi, aku pasrah aja.
Aku disuruhnya nungging seperti anjing, dan dia menyodokkan kontolnya
dari arah belakang ke memek ku. Nikmat sekali permainan ini pikirku.
‘Ennngghh… mmhh.. mmmhh…’ desahnya tak keruan. Belakangan aku baru
tahu bahwa pak Mat telah menduda selama 7 tahun ditinggal istrinya
meninggal. pantas saja dia melampiaskan nafsunya padaku, yang cocoknya
jadi cucunya itu.

Sambil menggoyang pantatnya maju mundur, dia memegangi pinggulku
dengan erat, kalian pasti tidak tahu bagaimana enaknya rasaku pada
saat itu. selama tubuhku dinikmatinya, aku telah mencapai puncak
sampai 4 kali, sampai lemas tubuhku dibuatnya. Tapi pak Mat tidak mau
tahu, dia tetap menggarap tubuhku dengan nikmat.

Tidak kurang dari 15 menit di genjot tubuhku dari belakang seperti
itu, setelah itu dia cepat-cepat lepas kontolnya dari memekku dan
memasukkan kemulutku sambil mengerang keras. Aku tahu apa yg
diinginkannya, aku sedot keras kontolnya, pejuhnya muncrat didalam
mulutku berulang-ulang, banyak sekali. ‘crottt, croooth..,
crooootttthh…’ hampir penuh oleh pejunya mulutku dibuatnya. aku
sedot lagi sampai habis, wah enak sekali, aku makin terbiasa makan
pejuhnya, dan rasanya tambah terasa nikmat. Terutama aku sangat suka
melihat reaksi nya saat pejuhnya keluar. Aku merasa memekku agak
membengkak akibat disodok oleh kontol pak Mat yg besar itu.

Setelah istirahat beberapa menit, dia bertanya padaku ‘gimana non?
enak kan?’, ‘enak sekali pak, rasanya nikmat sekali, tak dapat
dilukiskan dengan kata-2x’ sahutku. ‘Kapan-2x ajarkan aku lagi ya,
pak? boleh kan?’ tanyaku polos, pak Mat terkejut ‘wah, non pengen lagi
yah? boleh, boleh, kapan saja non mau, panggil saja pak Mat. Tapi non
jangan bilang siapa-siapa ya. nanti aku tak bisa mengajarkan non yg
lain lho.’ dalam hati pak Mat berpikir, wah, lumayan juga kalo aku
bisa menikmati tubuhnya setiap hari, aku bisa jadi muda lagi, nih.
Sambil memandangiku dan tubuhku, dia berkata dalam hati, tak pernah
terbayangkan olehku bakal bisa mendapatkan keperawanan dan menikmati
tubuh non-ku, anak juraganku sendiri, padahal aku tahu dia dari kecil.
Ternyata nikmat juga tubuhnya yg mungil ini, tahu gini sudah dari umur
12 dulu seharusnya kunikmati tubuhnya. Udah putih, mulus, tanpa cacat
sedikitpun bak pualam, wajahnya yg cantik mungil, mulutnya yg kecil
dan selalu merah, hmmm, ternyata enak juga ngentot dengan anak kecil,
apalagi keturunan chinese, kaya’an nya lebih hot deh, membuat kontolku
jadi lebih muda dan segar saja, pikirnya.

Setelah berpakaian, aku kembali kekamarku dan tertidur kelelahan.
Setelah kejadian hari itu, aku sering di entot pak Mat, dimana saja,
di kamarnya, dikamarku sendiri, diruang tamu, digudang, di dapur,
bahkan di kamar mandi sekalipun, pokoknya dimana saja dan dimana ada
kesempatan, pak Mat tidak menyia-2xkan tubuhku yg mungil itu. Dan aku
semakin lama semakin ketagihan kontolnya.

Akhir-2x ini aku baru sadar bahwa aku telah menyerahkan keperawananku,
tubuhku dan segalanya kepada tukang kebunku sendiri. Apalagi orangnya
udah tua agak peyot, tapi kontolnya masih boleh juga. Sejak saat itu,
aku jadi ketagihan dan ingin merasakan kontol-2x orang lain, tidak
pandang bulu. Aku bahkan lebih terangsang dengan orang dari kalangan
yang bukan orang berada. Entah kenapa aku lebih suka memberikan
tubuhku yang masih muda dan mungil ini untuk dinikmati mereka, rasanya
ada sesuatu didalam tubuhku yang membuatku lebih terangsang. Mungkin
karena pengalaman pertamaku dengan tukang kebunku sendiri, kali.

Janda Kembang

Kisah ini berawal ketika saya pulang liburan akhir semester lalu dari bandung. Hampir 2 minggu saya habiskan disana dengan reuni bareng temen-temen saya waktu SMA dulu yang kebetulan kuliah disana. Saya sendiri kuliah di kota budaya, Jogjakarta.

Waktu itu saya tiba diterminal bis di kota Bandung pukul 2 siang, meskipun bis Bandung Jogja yang saya tumpangi baru berangkat 2 jam kemudian. Saat sedang asyik membolak-balik Taboid Olahraga kesukaan saya, tiba-tiba seorang anak kecil berusia 4 tahunan terjatuh didepan saya, sontak tangan ku menarik si gadis kecil itu.

“Makasih Dik, maklum anak kecil kerja nya lari-lari mulu” ungkap seorang wanita setengah baya seraya mengumbar senyum manisnya. Namun walau hampir kepala tiga, Mbak Titin, demikian dia memperkenalkan dirinya pada saya, masih keliatan seperti gadis muda yang lagi ranum-ranum nya…. dada gede (34B), pantat bahenol dibarengi pinggul seksi membuat ku terpaku sejenak memandanginya.

“Maaf, boleh saya duduk disini” suara Mbak Titin dengan logat sundanya yang khas memecah ‘keheningan’ saya
“Ssii… silakan Mbak,” balas ku sambil menggeser pantat ku dibangku ruang tunggu bis antar kota di kota kembang itu.
“Mau kemana mbak’”saya coba membuka pembicaraan.
“Anu… saya the mau ke jogja. Biasa beli barang-barang buat dagang. Adik mau kemana?”
“Sama, jogja juga. Mbak sendiri?” pandangan ku melirik payudara nya yang belahan nya jelas dari kaos lumayan ketat yang dipakainya.
“Ya, tapi ada yeyen kok” katanya sambil menunjuk si kecil yang asik dengan mainannya.
“Saya Andi Mbak” ucapku sambil mengulurkan tangan yang langsung disambutnya dengan ramah.
“Kalo gitu saya manggilnya mas aja ya, lebih enak kedengarannya” ungkap si mbak dengan kembali mengumbar senyum manisnya. Mungkin karena ketepatan jurusan kami sama, saya dan Mbak Titin cepat akrab, apalagi apa karna kebetulan ato gimana, kami pun duduk sebangku di bis yang memang pake formasi seat 2-2 itu.

Dari ceritanya ku ketahui kalo Mbak Titin janda muda yang ditinggal cerai suami sejak 2 thn lalu. Untuk menyambung hidup dia berjualan pakaian dan perhiasan yang semua dibeli dari jogja. Katanya harga nya murah. Rencananya di Jogja 2-3 hari..

Pukul 4.30 sore, bis meninggalkan terminal tersebut, sementara didalam bis kamu bertiga asyik bercengkarama, layaknya Bapak-Ibu-Anak, dan cepat akrab saya sengaja memangku si kecil Yeyen, sehingga Mbak Titin makin respek pada saya. Tak terasa, waktu terus berjaan, suasana bis begitu hening, ketika waktu menunjukkan pukul 11 malam. Si kecil Yeyen dan para penumpang lain pun sudah terlelap dalam tidur. Sedangkan saya dan Mbak Titin masih asyik dalam obrolan kami, yang sekali-kali berbau ha-hal jorok, apalagi dengan tawa genitnya Mbak Titin sesekali mencubit mesra pinggang saya. Suasana makin mendukung karna kami duduk dibangku urutan 4 dari depan dan kebetulan lagi bangku didepan,belakang dan samping kami kosong semua.

“Ehmm..mbak, boleh tanya ga nih, gimana dong seandainya pengen gituan kan dah 2 taon cerainya.” tanya ku sekenanya.
“Iiihh, si mas pikiran nya..ya gimana lagi, palingan usaha sendiri… kalo ga,ya… ini,si Yeyen yang jadi sasaran marah saya, apalagi kalo dah sampe di ubun-ubun.” jawabnya sambil tersipu malu.
“Masa… Ga mungkin ga ada pria yang ga mau sama mbak, mbak seksi, kayak masih gadis” aku coba mengeluarkan jurus awal.

Tiba-tiba si yeyen yang tidur pulas dipangkuan Mbak Titin, nyaris terjatuh.. sontak tangan ku menahannya dan tanpa sengaja tangan kami bertemu. Kami terdiam sambil berpandangan, sejenak kemudian tangan nya ku remas kecil dan Mbak Titin merespon sambil tersenyum. Tak lama kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu ku, tapi aku mencoba untuk tenang, karena diantara kami masih ada si kecil yeyen yang lagi asik mimpi..ya memang ruang gerak kami terbatas malam itu. Cukup lama kami berpandangan, dan dibawah sorot lampu bis yang redup, ku beranikan mencium lembut bibir seksi janda cantik itu.

“Ssshhh… ahhh… mas” erangnya, saat lidah ku memasuki rongga mulutnya, sementara tangan ku, walau agak sulit, karna yeyen tidur dipangkuan kami berdua, tapi aku coba meremas lembut payudara seksi nan gede itu.
“Terus mas… enak….. ouhhhh” tangan nya dimasukin aja mas, gak keliatan kok” rengeknya manja.
Adegan pagut dan remas antara kami berlangsung 20 menitan dan terhenti saat yeyen terbangun…
“Mama…, ngapain sama Om Andi” suara yeyen membuat kami segera menyudahi fore play ini dan terpaksa semuanya serba nanggung karna setelah itu Yeyen malah ga tidur lagi.
“Oya, ntar di Jogja tinggal dimana Mbak” tanya ku.
“Hotel Mas… Napa? Mas mau nemenin kami…???”
“Bisa, ntar sekalian saya temenin belanjanya, biar gampang, ntar cari hotelnya disekitar malioboro aja.